nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kepolisian Hong Kong: Kami Tak Perlu Bantuan Beijing

Senin 19 Agustus 2019 07:37 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 08 19 18 2093648 kepolisian-hong-kong-kami-tak-perlu-bantuan-beijing-X72VoU194W.jpg Polisi Hong Kong menahan seorang demonstran di luar kantor polisi Tsim Sha Tsui, pada 11 Agustus lalu. (AFP/Getty Images)

KEPOLISIAN Hong Kong mengaku mereka kewalahan dan kesulitan.

Setelah beberapa bulan menggelar aksi demonstrasi menyerukan reformasi demokratis, para pegiat mengubah taktik dengan menyasar banyak target pada saat yang bersamaan. Kepolisian tidak bisa mengimbangi.

Namun, melansir BBC Indonesia, kini mereka sudah merombak strategi dan mengklaim dapat menangani situasi sehingga pasukan China daratan sepertinya tidak akan terlihat berhadapan dengan demonstran di jalan.

Informasi ini mengemuka dalam taklimat selama hampir tiga jam pada pekan ini, yang dikemukakan seorang perwira senior kepolisian Hong Kong kepada sejumlah wartawan internasional, termasuk BBC.

Dalam kesempatan itu mereka menyampaikan penilaian kemampuan mereka sendiri secara blak-blakan sekaligus kemungkinan intervensi Beijing. Mereka menegaskan itu takkan terjadi dan ini sebabnya.

Dapatkah China mengambil alih?

Jika, pada suatu titik, krisis di Hong Kong mencapai taraf yang tak lagi bisa dikendalikan aparat setempat, pasukan China daratan bakal menyeberang dari kota Shenzhen di perbatasan.

Beragam foto yang menampilkan iring-iringan polisi bersenjata lengkap dari China telah dirilis media pemerintah China, disertai ancaman intervensi.

Jika itu terjadi, "kita akan berada di wilayah yang benar-benar baru", kata seorang perwira senior kepolisian Hong Kong. Selagi dia berujar, kolega-koleganya mengangguk tanda sepakat.

Menurutnya, selama ini tidak pernah ada kerja sama operasi antara kepolisian China daratan dan Hong Kong. Tidak ada protokol dan rencana sama sekali. Bahkan, kedua lembaga tidak pernah menggelar latihan gabungan.

Ini artinya, jika konvoi truk yang mengangkut pasukan China daratan tiba di Hong Kong, pemerintah China bakal mengambil alih kendali operasi.

Perwira senior kepolisian Hong Kong yang kami ajak bicara, berkeras "itu takkan terjadi". Kepolisian Hong Kong, menurutnya, "mampu menangani" krisis saat ini.

Kepolisian China berlatih di Shenzhen, dekat perbatasan dengan Hong Kong (epa)

Ditambahkannya, spekulasi di media sosial bahwa ada sejumlah polisi China yang ditugaskan di kepolisian Hong Kong, sama sekali tidak benar.

Spekulasi itu berkembang ketika sejumlah polisi tidak menunjukkan nomor identitas dan gosipnya mereka berbicara dalam bahasa Mandarin—sedangkan polisi Hong Kong berbicara bahasa Kanton.

Duta Besar China untuk Inggris, Liu Xiaoming, mewanti-wanti bahwa Beijing bisa "meredam semua kericuhan dengan cepat" seraya menuding "kekuatan asing" memicu terjadinya unjuk rasa.

Tudingan itu kami tanyakan kepada kepolisian Hong Kong. Adakah bukti yang mendasari tudingan bahwa pemerintah asing mendanai atau mengorganisir unjuk rasa antipemerintah?

Mereka menjawab lugas: "Tidak".

Polisi yang menyamar

Kepolisian Hong Kong mengakui bahwa, pada suatu titik, personel mereka amat terbatas untuk menangani jumlah unjuk rasa yang dilakoni para pegiat dengan menerapkan strategi "pukul dan kabur".

Caranya, para demonstran melemparkan batu-bata ke kantor polisi atau memblokade terowongan lintas kota. Kemudian, tatkala satuan antihuru-hara tiba, para demonstran akan kabur.

Dalam demonstrasi pada 5 Agustus, terjadi kericuhan di puluhan lokasi yang tersebar di Hong Kong.

Aksi demonstrasi di Hong Kong tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. (Getty Images)

Kepolisian mengatakan kini mereka dapat mengirim personel lebih cepat dan lebih luwes. Mereka memanfaatkan pergerakan demonstran yang memecah ke kelompok-kelompok kecil dengan melakukan penangkapan secara cepat.

Aparat dapat mengutus sekitar 3.000 personel anti-huru-hara, yang jika tidak ada kericuhan, punya tugas lain di dalam kepolisian Hong Kong yang beranggotakan 30.000 personel.

Kepolisian merasa lebih percaya diri karena telah menangkap yang mereka sebut figur-figur penting di antara para demonstran yang paling radikal.

Walau gerakan ini digambarkan sebagai gerakan cair tanpa pemimpin, yang mengandalkan konsensus di antara grup-grup percakapan di dunia maya, kepolisian merasa figur-figur kunci sanggup menggalang dukungan untuk aksi-aksi tertentu.

Mereka mengklaim telah menemukan dan menahan "pemain-pemain utama" dengan bantuan laporan intelijen yang didapat dari polisi-polisi yang menyamar di antara para demonstran. Mereka kadang menyebut taktik ini "operasi umpan".

'Jika mereka membunuh seseorang, mereka akan menghadapi tuntutan pembunuhan'

Penggunaan polisi yang menyamar sejauh ini telah menimbulkan kerisauan dan bahkan paranoia di antara kalangan demonstran.

Pada Selasa (13/08), para pegiat menyerang dua pria—termasuk seorang wartawan media pemerintah China—di Bandara Hong Kong, atas tuduhan keduanya adalah polisi China daratan.

Di semua pihak, kewaspadaan semakin meningkat dan tak lagi mudah percaya dengan orang, termasuk kepada wartawan. Baik polisi maupun demonstran kerap meminta kartu identitas wartawan sebelum wawancara.

Polisi juga mendapat kecaman karena beberapa kali melakukan pendekatan kekerasan, termasuk melepaskan gas air mata ke kawasan permukiman dan stasiun kereta bawah tanah.

Kemudian ada foto-foto yang menampilkan polisi antihuru-hara menembakkan peluru karet dan gas air mata secara horizontal—yang bisa mengenai kepala para demonstran.

Kepolisian mengatakan insiden seperti itu seharusnya tidak terjadi. Peluru karet, menurut mereka, seharusnya ditembakkan ke tanah sehingga dapat memantul mengenai orang.

Ini yang mungkin terjadi pada diri saya, 5 Agustus lalu, ketika sebuah proyektil mengarah langsung ke wajah saya sehingga meremukkan kaca topeng antigas airmata. Kepolisian mengatakan itu kemungkinan peluru karet.

Salah seorang perwira mengatakan tidak mungkin saya sengaja ditembak di bagian kepala. "Setidaknya saya berharap tidak demikian," ujarnya.

Ditambahkannya, peluru itu amat mungkin memantul dari bawah dan sayangnya mengarah ke bagian wajah saya. Siapa yang tahu?

Seorang perwira lainnya menilai bahwa terlalu gila jika polisi berupaya menembak kepala seseorang dengan peluru tersebut.

"Jika mereka membunuh seseorang, mereka akan menghadapi tuntutan pembunuhan," katanya.

Kontingen Taktis Khusus—tim antihuru-hara yang dikenal dengan julukan 'Raptors'—direkam akhir pekan lalu ketika mereka mengejar demonstran ke stasiun kereta bawah tanah.

Di bagian atas eskalator, aparat tersebut menembakkan peluru tak mematikan ke arah para demonstran dari jarak dekat kemudian memukuli mereka dengan pentungan.

Kepolisian tidak menyampaikan permohonan maaf atas perlakuan kepada para demonstran karena sejumlah polisi telah dilempari batu bata dan batangan logam.

Lantas ada laporan bahwa gas air mata yang dipakai kepolisian telah melampaui tenggat kadaluarsa. Kami bertanya, jika laporan itu benar, apakah berbahaya?

Perwira-perwira ini mengatakan pihak pembuat gas air mata telah menjamin produk tersebut benar-benar aman. Namun, untuk memastikannya, kepolisian akan menarik semua gas air mata yang kadaluarsa.

Mengingat banyaknya gas air mata yang dilepaskan, apakah kepolisian akan kehabisan?

"Tidak."

Para demonstran menggelar barikade di bandara Hong Kong. (afp)

Takut aksi balas dendam

Pertanyaan selanjutnya adalah tentang masa depan. Berapa lama kepolisian Hong Kong bisa memulai membangun ulang kepercayaan publik?

Para perwira yang kami temui menggeleng kepala dan mengangkat bahu. "Jujur, akan perlu waktu yang lama," kata salah seorang perwira.

Insiden humas terburuk bagi kepolisian Hong Kong mungkin yang terjadi pada 21 Juli, manakala satupun personel polisi tidak terlihat sewaktu sekumpulan pria berbaju putih yang terkait geng, menunggu para demonstran di stasiun kereta Yuen Long dan menyerang mereka dengan senjata rakitan.

Para pelintas yang tidak ikut demonstrasi pun turut menjadi sasaran.

Walau kepolisian telah menangkap puluhan orang "berbaju putih", publik dan khususnya kubu prodemokrasi menyerukan investigasi independen terhadap kejadian-kejadian terkini, termasuk dugaan keterkaitan sejumlah perwira dengan dunia kejahatan bawah tanah.

Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, menolak seruan penyelidikan. Menurutnya, Dewan Pengawas Polisi Independen tengah meninjau kasus tersebut.

Para perwira yang kami wawancarai juga menilai tidak perlu ada penyelidikan independen yang khusus menginvestigasi insiden di Stasiun Yuen Long.

Bahkan ketika ditanya apakah hal itu bisa menjadi cara meraih kembali kepercayaan publik, mereka mengatakan tidak melihat penyelidikan semacam itu ada maknanya.

Sementara itu, para polisi di lapangan tengah menghadapi tekanan publik yang luar biasa.

Setelah seharian penuh berjibaku dengan para demonstran, mereka rutin dikelilingi ratusan warga awam yang melontarkan cacian.

"Suaranya begitu memekakkan," kata seorang polisi.

Ada pula perundungan di dunia maya. Informasi pribadi dari setidaknya 300 polisi diunggah ke dunia maya, foto anak-anak mereka dipublikasikan, demikian juga dengan tempat kerja suami atau istri mereka sehingga orang-orang tahu siapa mereka.

Kami mendapat informasi mengenai anak polisi yang dimaki seseorang saat berolahraga. Dia berkata kepada anak tersebut: "Apa yang dilakukan ayahmu itu menjijikkan."

Perundungan tak berhenti di situ. Para pegiat memutus pasokan listrik ke rumah-rumah polisi dan mengirim antaran makanan palsu pada dini hari.

Kerisauan akan aksi balas dendam begitu tinggi sehingga, menurut informasi yang kami dapatkan, ketika sejumlah polisi ke rumah sakit untuk mendapat perawatan, mereka menyebut pekerjaan mereka sebagai "pegawai negeri" alih-alih "polisi".

Mereka khawatir catatan rumah sakit bisa bocor atau bahkan mereka dirundung di rumah sakit.

Carrie Lam dipilih sebagai pemimpin eksekutif atas persetujuan pemerintah pusat di Beijing. (Getty Images)

'Kami tidak bisa ikut campur politik'

Hanya solusi politik yang bisa meredam krisis Hong Kong.

Mereka yang bisa mendatangkan solusi itu tidak berada di garis depan. Garis depan adalah dunianya polisi dan pegiat.

Apakah para polisi menginginkan semacam tindakan dari pemimpin Hong Kong, khususnya Carrie Lam, sehingga polisi tidak menjadi incaran kemarahan?

Perwira-perwira polisi yang kami wawancarai tersenyum. Sepertinya mereka sangat ingin berkata banyak. Namun, setelah hening sejenak, kami mendapat jawaban: "Kami tidak bisa ikut campur dalam politik".

Mereka mengaku ingin para demonstran berunjuk rasa secara damai—"caranya Hong Kong".

Di sisi lain, puluhan ribu pegiat meyakini demonstrasi damai telah diabaikan mereka yang berkuasa dan eskalasi adalah satu-satunya cara mendatangkan reformasi demokratis.

Polisi tahu konflik ini tidak akan rampung dalam waktu dekat.

Akibatnya, kami diberitahu bahwa semakin banyak polisi Hong Kong yang mengundurkan diri dari jabatannya.

Tapi, dampak terbesarnya, menurut mereka, para polisi bersatu padu dan mendukung satu sama lain.

Adakah kemungkinan demonstrasi di Hong Kong justru menciptakan perpecahan di tubuh kepolisian?

Tidak mungkin, kata mereka. Justru sebaliknya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini