nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Demonstran Hong Kong Injak-Injak Bendera China, Rusak Mal dan Stasiun

Rahman Asmardika, Jurnalis · Senin 23 September 2019 09:26 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 09 23 18 2108064 demonstran-hong-kong-injak-injak-bendera-china-rusak-mal-dan-stasiun-XPa5wdMEHq.jpg Foto: AFP.

HONG KONG – Demonstran di Hong Kong melakukan aksi kekerasan dan perusakan dalam unjuk rasa di pekan ke-16 berturut-turut. Pada demonstrasi yang berlangsung Minggu, para demonstran terlihat menginjak-injak bendera China dan merusak sebuah pusat perbelanjaan di utara Hong Kong.

Diwartakan Channel News Asia, demonstran yang berkumpul di sebuah mal di Sha Tin mulanya melakukan aksi damai dengan menyanyikan lagu protes dan membuat bangau origami. Namun, ketegangan kemudian meningkat pada sore hari setelah demonstran yang mengenakan masker menurunkan bendera China dari sebuah gedung pemerintah, menginjak-injaknya sebelum membuangnya ke sungai.

BACA JUGA: Datangi Konsulat AS, Demonstran Desak Trump Bebaskan Hong Kong dari China

Eskalator dan panel kaca di New Town Plaza di Sha Tin menjadi sasaran demonstran. Polisi telah menutup lokasi itu dan menembakkan gas air mata ke pengunjuk rasa yang melempar batu bata.

Kelompok-kelompok pengunjuk rasa bertopeng kemudian merusak mesin tiket di stasiun kereta bawah tanah Sha Tin sebelum polisi anti huru-hara bergegas masuk untuk menutup stasiun. Sebelumnya, stasiun televisi juga menayangkan rekaman yang memperlihatkan seorang pria mengalami memar dan lecet, diduga karena dianiaya oleh demonstran.

Foto: Reuters.

Pertikaian antara polisi dan beberapa aktivis yang berlindung di balik dinding payung terjadi, tetapi para pengunjuk rasa segera bubar begitu gas air mata dan peluru karet ditembakkan ke arah mereka. Polisi melakukan beberapa penangkapan dalam insiden tersebut.

BACA JUGA: Polisi Hong Kong Terekam Kejar dan Pukuli Demonstran Dalam Kereta

Kantor berita South China Morning Post dan RTHK juga melaporkan petugas anti huru hara juga dipanggil untuk menyelamatkan Patrick Nip, seorang menteri di pemerintah Hong Kong, setelah mobilnya yang dikepung dikelilingi oleh pengunjuk rasa yang marah.

Demonstrasi di Hong Kong mulanya dipicu oleh undang-undang ekstradisi yang sekarang telah ditarik, tetapi protes itu berubah menjadi kampanye pro-demokrasi yang lebih luas.Isu-isu seperti hak pilih universal, permintaan untuk penyelidikan tindakan polisi dan dugaan keterlibatan geng dalam menghadapi demonstran juga menjadi tuntutan yang diangkat oleh para pengunjuk rasa dan aktivis.

Kampanye tersebut, yang kebanyakan dilakukan oleh kaum muda, awalnya memang berlangsung damai tetapi semakin dipenuhi kekerasan.

Kerusuhan di Hong Kong telah menjadi tantangan terbesar bagi Beijing sejak penyerahan kedaulatan kota pulau itu oleh Inggris pada 1997. Hong Kong adalah bagian dari China, tetapi menikmati "kebebasan khusus", yang akan berakhir pada 2047, dan banyak warga di Hong Kong tidak ingin menjadi seperti "kota China yang lain".

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini