nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Trump Mengakui Ingin Ukraina dan China Periksa Joe Biden, Pesaingnya di Pemilu AS 2020

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Jum'at 04 Oktober 2019 15:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 04 18 2112857 trump-mengakui-ingin-ukraina-dan-china-periksa-joe-biden-pesaingnya-di-pemilu-as-2020-oPb4SJntvK.jpg Presiden AS Donald Trump. (Foto/PBS)

WASHINGTON - Presiden Amerika Donald Trump secara jujur mengakui telah mendesak pemerintah asing untuk menginvestigasi Joe Biden, lawan politiknya yang berptensi menjadi calon prersiden AS dari Partai Demokrat pada 2020.

Menjawab pertanyaan para wartawan di Halaman Gedung Putih, Kamis (3/10) pagi, Trump ditanya tentang pertolongan apa yang dia inginkan dari Presiden Ukraina Volodmyr Zelenskiy dalam percakapan telepon 25 Juli lalu.

“Saya merekomendasikan agar mereka mulai memeriksa mantan wakil presiden Joe Biden dan putranya,” ujar Presiden melansir VOA, Jumat (4/10/2019).

Trump, dalam beberapa hari terakhir, telah berulangkali menyerang Joe Biden, mantan Wakil Presiden AS era Barrack Obama.

Foto/Reuters

Baca juga: Trump Ketahuan Minta Bantuan PM Australia Investigasi Penyelidikan Mueller

Baca juga: Berbicara soal Pemakzulan, Trump Sebut Akan Ada Perang Saudara di AS

Trump dianggap telah menyalahgunakan kekuasaannya dengan menekan Ukraina agar menghentikan penyelidikan kriminal yang diduga melibatkan Hunter, putra Biden yang bekerja untuk perusahaan energi Burisma di Kyiv.

Trump, sebelum menaiki helikopter untuk perjalanan sehari ke Florida, menuduh Biden telah “menipu” Ukraina dan juga China.

“China sebaiknya memulai pemeriksaan terhadap Biden dan putranya,” kata Trump.

Trump telah menuduh Hunter Biden menggunakan pesawat Air Force Two pada tahun 2013 untuk mendapat 1,5 milyar dolar AS dari China untuk dana ekuitas perusahaan swasta yang dibentuk anak wakil presiden itu.

Demokrat menyebut pernyataan Trump hari Kamis sebagai contoh tindakan memanfaatkan posisinya sebagai presiden untuk kepentingan politik pribadinya.

Sebelumnya melalui Twitter, Trump menyebut agenda pemakzulannya sebagai kudeta.

“Ketika saya belajar semakin banyak setiap hari, saya sampai pada kesimpulan bahwa apa yang terjadi bukanlah pemakzulan, itu adalah kudeta," cuit Trump.

Ia menambahkan, "[Ini] dimaksudkan untuk mengambil Kekuatan Rakyat, PILIHAN mereka, Kebebasan mereka, Amandemen Kedua, Agama, Militer, Tembok Perbatasan, dan hak-hak yang diberikan Tuhan."

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini