MANADO - Pesta rakyat tradisional merupakan suatu tradisi yang dilaksanakan oleh Etnis Borgo di Manado. Etnis ini merupakan keturunan pendatang dari berbagai bangsa Eropa, diantaranya Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, Jerman, dan lainnya yang diperkirakan masuk Sulawesi Utara (Sulut) melalui pantai Manado, Kema dan Tanawangko pada tahun 1500 an kemudian kawin mawin dengan warga pribumi suku Minahasa.
Borgo berasal dari kata “Burgers” ( baca: Berhers) dalam bahasa Belanda yang artinya warga bebas atau orang yang di bebaskan. Etnis Borgo yang ada di Sulut tersebar dibeberapa daerah yang umumnya pesisir pantai, yaitu Manado, Kema, Tanawangko, Amurang, Belang, Likupang.
Di kota Manado, etnis ini tersebar di Pondol (ujung), Sindulang, Kampung Kananga/Mahakeret (Bakuku-Berteriak), kampung Kakas -Tokambene ( Gudang Padi), Komo dan Kampung kodo. Setiap memasuki tahun baru Etnis yang tersebar dibeberapa lokasi tersebut selalu melaksanakan pesta rakyat tradisional.

Perayaan sebagai ungkapan rasa syukur karena telah melewati tahun yang lama dan bersama sama dalam rasa persaudaraan memasuki tahun yang baru ini sudah dilaksanakan secara turun temurun selama ratusan tahun oleh warga Etnis Borgo dan juga oleh penduduk asli yang ada di sekitar pemukiman Borgo.
"Itu sudah menjadi tradisi tiap tahun, turun temurun," kata Johan Takapente (60) kepada okezone
Pesta Rakyat Tradisional yang dilaksanakan setiap pergantian tahun itu diawali dengan Malam Taong Tua, Figura dan ditutup dengan Kunci Taong. Malam taong tua merupakan tradisi yang berasal dari bangsa Portugis untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih dalam memperingati pergantian tahun dan mempererat tali Silaturahmi antar warga.