Tradisi yang lebih dikenal dengan nama Mekiwuka ini biasanya dia adakan setiap tanggal 31 Desember. Setelah mengadakan ibadah ucapan syukur di Gereja masing-masing, maka tepat pukul 24:00 wita seluruh warga masyarakat saling berjabat tangan untuk mengungkapkan rasa syukur karena telah melewati tahun yang lama dan memasuki tahun yang baru serta saling memaafkan antara warga masyarakat serta dengan Pemerintah.
Setelah saling berjabat tangan antara warga Masyarakat, mereka berkumpul di depan rumah pemerintah setempat atau yang dituakan, sambil bernyanyi dan diiringi oleh alat musik tradisional etnis Borgo berupa Gitar, Jug atau Ukulele, Tambor, Biola, serta alat musik Iainnya.
"Begitu tiba pukul 24.00 wita, silaturahmi, jabat tangan, masuk keluar rumah di kampung kakas kemudian kumpul semuanya, berdoa untuk tahun yang baru, kemudian kunjungi pemerintah setempat, kepala lingkungan, kepala kelurahan, kemudian tua-tua kampung, meminta ijin, minta ijin itu juga pakai lagu," jelas Johan.

Tokoh Masyarakat yang mewakili warga memberikan ucapan syukur dan rasa terima kasih kepada Pemerintah setempat atau yang dituakan karena telah memimpin selama satu tahun yang lalu serta mohon maaf atas segala kesalahan yang dilakukan, juga mohon petunjuk untuk memasuki tahun yang baru. Dan Pemerintah selanjutnya memberikan Wejangan dan nasehat kepada warga dan dilanjutkan dengan saling berjabat tangan antara warga dengan pemerintah dan keluarganya.
"Setelah itu secara bersama sama berkunjung sambil bernyanyi dengan diiringi musik, mulai dari kampung kakas sampai ke Mahakeret, tidak pilih-pilih rumah, semuanya kami masuki, bahkan sampai pagi hari," kata Johan yang juga pemain ukulele di tradisi itu.
Dahulu tradisi Mekiwuka ini dilaksanakan oleh setiap etnis borgo yang ada di kampung-kampung, seperti Mahakeret, Pondol, Kampung Tondano, Kampung Tombariri, Sindulang, namun sekarang tinggal Kampung Kakas, Kelurahan Wenang Selatan ,Kecamatan Wenang, Manado, Sulawesi Utara yang terus melaksanakannya setiap tahun.