Bahkan tradisi itu terus dijaga dan diwariskan kepada anak cucu. Kelestariannya masih terus di jaga, dari generasi tua sampai generasi muda yang ada di kampung kakas mengetahui tradisi tersebut. Sayangnya tradisi ini seakan terlupakan dan luput dari perhatian pemerintah, yang lebih dikenal justru tradisi Figura dan Kunci Taong.
"Padahal itu malam taong tua, malam kebersamaan, semua ikut bergabung, tidak mengenal suku, agama maupun golongan, kerukunan antar umat beragama di manado justru diawali dari sini," tambah Ronald Markus, pemuda kampung kakas.
Di Manado, hanya kampung kakas yang masih mempertahankan tradisi itu, turun temurun, di Kampung Sindulang juga ada, namun menurut Onal hanya di kampung kakas yang lebih menjaga kelestariannya, dan itu merupakan tradisi asli Manado.
"Dahulu pemerintah kota sudah pernah mengadopsi itu, bahkan dulu kami pernah jalan sampai ke rumah dinas walikota namun sekarang sepertinya tidak lagi, hanya figura yang dilestarikan padahal Mekiwuka juga penting, awal dari kegiatan menyambut tahun baru," jelas Onal
Pesta rakyat selanjutnya yakni Figura. ”figuur” dalam bahasa Belanda yang artinya rupa muka. Seperti Mekiwuka yang diiringi musik sambil bernyanyi, mengunjungi rumah pemerintah setempat dan seluruh rumah warga, tapi perbedaanya acara ini dilaksanakan pada siang atau sore hari di akhir bulan Januari.

Warga masyarakat yang mengikuti acara tersebut harus berdandan sedemikian rupa sehingga merubah karakter dan pribadi mereka sehari hari, contohnya Laki-Iaki berdandan sebagai Perempuan, yang lemah gemulai berubah menjadi gagah perkasa, begitupun sebaliknya. Dan berbagai karakter lainnya yang bertolak belakang dengan kehidupan mereka sehari-harinya. Untuk menambah semarak acara, maka ada penilaian tersendiri untuk setiap peserta.
Tradisi selanjutnya adalah Kunci Taong yang merupakan puncak acara dari serangkaian acara yang dilaksanakan sejak dari Malam Taong Tua, dan merupakan simbol suka cita dan syukur warga masyarakat karena telah memasuki tahun yang baru dengan rasa riang gembira saling berdansa dan berpesta.
Tradisi ini dilaksanakan pada malam hari sesudah acara Figura dan tidak berkeliling, melainkan di suatu tempat pertemuan dan dihadiri oleh seluruh warga masyarakat dengan pakaian pesta. Juga mengundang warga Etnis Borgo Iainnya yang ada di Sindulang, Pondol, Mahakeret, Komo, Kuhun, kampung Kodo, dan warga pribumi sekitar yang tujuannya untuk menjalin tali silahturahmi dan kekerabatan antara warga.
Acara ini dibuka dengan dansa poliness yang dipimpin oleh seorang pemimpin dansa. Setelah poliness dilanjutkan dengan dansa dansi Iainnya, yaitu Katrili, Waltz, Cha-cha, Jive, Scholtjes, Polka, Bugi-Bugi yang merupakan warisan leluhur Etnis Borgo yang tetap dilestarikan.
Seiring dengan mengikuti perkembangan zaman maka saat ini ditambah dengan irama Disco, Dangdut, Break-dance dan lainnya. Untuk memeriahkan pesta ini diadakan juga perlombaan dansa dengan berbagai jenis irama dan kategori tertentu serta pemilihan peserta terbaik.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.