nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

2 Tahun Gagahi Anak Tetangga, Pembina Pencak Silat Kini Diburu Polisi

Bramantyo, Jurnalis · Minggu 23 Februari 2020 02:08 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 02 23 512 2172700 2-tahun-gagahi-anak-tetangga-pembina-pencak-silat-kini-diburu-polisi-blFGoGT3qF.jpg Ilustrasi Buronan (foto: Okezone)

SUKOHARJO - Dua tahun lamannya seorang perempuan berinisial DSH (29) warga Sragen menjadi korban pelampiasan nafsu seorang pria berinisial SWT (60) yang tak lain masih tetangganya sendiri.

Ironisnya, SWT yang diketahui sebagai seorang pembina salah satu perguruan pencak silat ini, kerap meminta uang terhadap korban dan keluarganya.

Bila permintaan uang itu tak dipenuhi, SWT mengancam akan menyebarkan foto anggota tubuh korban yang kini telah menikah dengan warga Sukoharjo, ke publik.

Baca Juga: Berawal dari Medsos, Kehormatan 2 Bunga Desa Direnggut Pria Pengangguran 

Untuk membuktikan ancaman anggota tubuh korban akan disebar ke publik, bila permintaan uang tak dipenuhi, foto-foto yang diambil pelaku saat memperdayai korban, dikirimkan kepada keluarga korban. Tak tahan dengan pemerasan tersebut, korban pun akhirnya memilih melaporkan SWT kepada polisi.

Ilustrasi (foto: Shutterstock) 

Kuasa hukum korban dari LBH Solo Raya Sukadewa mengatakan kasus ini terjadi pada 2010 silam. Pada saat itu, korban belum menikah dan masih menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi agama di Jombang, Jawa Timur.

"Kejadian ini terjadi karena orang tua korban sering meminta tolong pada pelaku untuk mengantarkan korban ke Jombang. Karena terlalu sering berdua, pelaku pun akhirnya tergoda," ujar Sukadewa kepada Okezone, Sabtu (22/2/2020).

Menurut Sukadewa, modus yang digunakan pelaku agar bisa menggagahi korban adalah membersihkan korban dari aura negatif. Kepada korban, pelaku mengatakan ingin meruwat atau melakukan ritual rukiyah kepada korban.

"Korban mengaku saat itu dirinya dibuat antara sadar dan tidak. Seperti kena guna - guna. Semua permintaan pelaku dituruti oleh korban,"terangnya.

Tak hanya berhubungan badan, pelaku pun acap kali mengambil gambar korban saat mengenakan baju usai berhubungan badan. Dengan foto inilah, pelaku memeras korban dan keluarganya hingga nilainya mencapai Rp30 juta.

"Aksi pemerasan terjadi selama kurun waktu 2018 hingga 2019. Kalau tidak mentransfer uang, foto-foto itu akan disebarkan ke keluarga korban melalui pesan Whatsapp," ujar Sukadewa.

Setelah kasus ini terbongkar dan dilaporkan polisi, korban sudah tidak lagi menuruti keinginan tersangka ketika meminta transfer uang. Transfer sudah dihentikan.

Mengetahui perbuatannya dilaporkan ke Polres Sukoharjo dan Polres Sragen, tersangka rupanya melarikan diri. Saat hendak ditangkap, ia sudah pergi dari rumah dan selalu berpindah - pindah tempat.

"Tersangka ini punya 7 nomor HP, setelah kami lacak yang aktif hanya satu. Pada waktu kami telusuri rupanya dia berada di daerah Ngawi. Namun setelah salah satu anggota kami datang ke sana rupanya dia sudah tidak ada," imbuhnya.

Baca Juga: Dicekoki Miras, Gadis Belia Dilecehkan 2 Pria di Kebun Tomat

Menurut Sukadewa, ternyata sebelum menggagahi korban, ibu korban pun sempat menjadi korban dari aksi bejat SWT. Modusnya pun sama, ibu korban diguna-guna hingga tak ingat apapun.

"Dan ternyata Ibu dari si korban pun rupanya sempat mengalami kejadian serupa dengan anaknya. Jadi tempat pelampiasan nafsu pelaku. Modusnya sama. Cuma di peras atau tidak, saya tidak tahu," paparnya.

Sukadewa meminta agar polisi bisa segera menangkap pelaku. Pasalnya, lima bulan sejak dilaporkan, pelaku belum juga berhasil dibekuk. Dalam kasus ini, tersangka SWT sudah dilaporkan ke Polres Sukoharjo pada 19 Oktober 2019 lalu.

Pelaku dilaporkan dengan UU ITE sebagaimana dimaksud pasal 45 (1), dan atau pasal 45 huruf b UU No. 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE.

"Jika terbukti melanggar UU ITE, tersangka diancam hukuman enam tahun kurungan penjara," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini