Melihat Suku Lembak dan Tradisi Kenduri Nasi Santan Jelang Panen Raya

Demon Fajri, Okezone · Senin 22 Juni 2020 14:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 22 340 2234238 melihat-suku-lembak-dan-tradisi-kenduri-nasi-santan-jelang-panen-raya-YgLQvfovZy.jpeg Pembakaran kemenyan sebelum tradisi Kenduri Nasi Santan dimulai (Foto: Okezone/Demon)

BENGKULU - Setiap daerah di Indonesia, memiliki kebudayaan dan tradisi ritual adat istiadat yang secara turun menurun selalu digelar oleh masyarakat. Seperti di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Suku Lembak, contohnya.

Suku Lembak merupakan salah satu suku di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia''. Masyarakat suku ini tersebar di beberapa daerah di provinsi yang dihuni tidak kurang dari 2,2 jiwa juta ini. Termasuk di Kota Bengkulu.

Di Kota Bengkulu, suku ini tersebar di beberapa kelurahan. Seperti, di Kelurahan Semarang, Surabaya, Tanjung Jaya, Tanjung Agung, Dusun Besar, Panorama, Jembatan Kecil, Pagar Dewa, Sukarami, Pekan Sabtu dan Kelurahan Kandang.

Di suku ini memiliki banyak tradisi. Mulai dari upacara kelahiran, beranjak remaja, perkawinan hingga kematian. Di masyarakat Lembak juga memiliki tradisi kenduri nasi santan atau nasi uduk, ketika ingin panen raya gabah padi.

Tradisi kenduri nasi santan itu dihelat jelang panen. Hal tersebut merupakan wujud syukur masyarakat Lembak yang sudah memasuki musim panen. Dalam tradisi tersebut, silaturahmi dan kebersamaan warga tercipta dari nikmatnya nasi uduk atau nasi santan.

Sebelum menggelar kenduri. Ahli rumah terlebih dahulu memasak nasi uduk di rumah. Selanjutnya, nasi santan dibawa ke pondok sawah milik tuan rumah yang hendak menggelar kenduri nasi uduk.

Ilustrasi

Selain nasi uduk, tuan rumah yang menggelar hajat pun menyiapkan sesajian makanan lainnya. Seperti, telur rebus, sambal, mie bihun tumis, air kopi, air teh serta makanan ringan lainnya.

Tradisi ini masih dilakukan salah satu masyarakat Lembak di Kelurahan Jembatan Kecil, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu. Siti Fadhillah, namanya. Siti memiliki areal persawahan di Kelurahan Panorama, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu.

Perempuan kelahiran 1959 itu tetap menggelar tradisi kenduri nasi santan jelang panen raya yang telah dilakukan orangtua terdahulu atau nenek moyang masyarakat suku Lembak, secara turun temurun.

Untuk menggelar hajat ini, perempuan 60 tahun itu mengajak, tokoh masyarakat, sanak saudara, tetangga dan petani lainnya untuk berkumpul di pondoknya, guna melangsungkan kenduri nasi santan.

Di pondok milik perempuan yang akrab disapa Mamak Padel itu, tokoh masyarakat akan membawakan ''rambak'' atau menyampaikan puji dan syukur atas tanaman padi yang sudah memasuki musim panen, sekaligus memajatkan doa kepada Allah SWT.

Sebelum memanjatkan doa yang dibawakan tokoh masyarakat, tuan rumah membakar kemenyan didekat batang padi didekat pondok. Usai membakar kemenyan, tokoh masyarakat memberikan kata pengantar doa.

Dalam kenduri itu, kata Mamak Padel, tokoh masyarakat Lembak memanjatkan doa kepada Allah SWT, serta mendoakan pendahulu atau nenek moyang masyarakat Lembak, yang awal mula membuka areal persawahan, serta para pendahulu masyakarat Lembak lainnya.

Usai berdoa, sajian makanan yang telah disediakan sebelumnya dihidang, disantap secara bersama berikut dengan sajian makanan lainnya. Sembari menyantap nasi santan, mereka juga bercengkrama dengan akrab.

Kenduri nasi santan, jelas Mamak Padel, merupakan salah satu wujud puji dan syukur kepada Allah SWT. Di mana tanaman padi sudah bisa dipanen pada musim kali ini. Tujuannya tidak lain agar musim tahun depan gabah padi bisa bertambah dan bebas dari hama penyakit.

''Kami menggelar tradisi ini secara turun menurun. Kenduri nasi santan ini dilakukan jelang panen raya,'' kata Siti Fadhillah, Sabtu 20 Juni 2020.

Bukti Terima Kasih Kepada Allah SWT

Tradisi kenduri nasi santan utamanya dihelat masyarakat Lembak, di Kelurahan Jembatan Kecil, Panorama dan Kelurahan Dusun Besar, Kota Bengkulu, yang secara turun menurun dihelat masyarakat suku Lembak.

Namun, kata tokoh masyarakat suku Lembak Kelurahan Panorama, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu, Fachruddin, HN, sebenarnya jelang panen raya bukan hanya tradisi nasi santan. Melainkan ada tradisi ''kenduri penyulung''.

Kenduri penyulung, jelas Fachruddin, kenduri serba hitam. Mulai dari beras ketan hitam, telur ayam kumbang atau ayam hitam, tebu hitam. Di mana kenduri ini dihelat di tengah areal persawahan.

Selain itu, dalam prosesi kenduri ini juga menggunakan silat kemenyan atau membakar kemenyan. Dengan membacakan rambak atau menyampaikan puji dan syukur atas tanaman padi yang sudah memasuki musim panen, sekaligus memajatkan doa kepada Allah SWT.

Dalam suku Lembak, sampai Fachruddin, rambak disampaikan sebelum sebelum kenduri merupakan salah satu wujud bukti terima kasih kepada Allah SWT. Di mana dalam bahasa suku Lembak, rambak disampaikan 'yang patah ingin dibawa pulang semuanya, yang buta mau dituntun, yang lumpuh mau dipikul,'.

Maksud rambak tersebut, kata Fachruddin, semua hasil tanaman padi yang akan dipanen akan dibawa pulang. Di mana hasil panen tersebut merupakan rizki dari Allah SWT, yang harus disyukuri.

''Kenduri nasi santan maupun kenduri penyulung ini bukti kita terima kasih kepada Allah SWT, atas tanaman padi yang sudah waktunya diambil hasilnya,'' ujar Fachruddin.

Tradisi ini, sampai Fachruddin, sudah mulai luntur. Di mana, lanjut Fachruddin, di tempat lain sudah mulai ditinggalkan. Namun, kata Fachruddin, tradisi yang secara turun menurun dari orangtua ini tetap dilakukan masyarakat Lembak di Kelurahan Panorama, Jembatan Kecil, dan Dusun Besar, khususnya.

''Jadi tradisi ini dari orang tua terdahulu, yang masih kami kerjakan sampai saat ini,'' imbuh Fachruddin.

Dipercaya Hasil Gabah Padi Meningkat

Sementara itu, salah satu Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Gambung Jaya Kelurahan Panorama, Kota Bengkulu, Syahabudin mengatakan, areal persawahan di Kelurahan Panorama, Dusun Besar dan sekitarnya mayoritas masih digarap masyarakat Lembak. Sehingga, tradisi ini masih dihelat menjelang panen raya di daerah ini.

Tradisi kenduri nasi santan, kata pria kelahiran 1955 ini, membuat masyarakat Lembak percaya jika hasil gabah padi bisa meningkat setiap musim panen, dan terhindar dari berbagai macam serangan hama penyakit.

Areal persawahan di Kelurahan Panorama dan Dusun Besar, sampai Syahabudin, tidak kurang dari ribuan Hektare (Ha). Untuk Gapoktan Gambung Jaya, kata Syahabudin, memiliki anggota 23 orang. Di mana 23 orang itu memiliki luasan areal persawahan sekira 13,7 Ha.

Setiap anggota, jelas dia, memiliki areal persawahan bervariasi. Mulai dari satu Ha, setengah Ha, seperempat hektare, sampai dua per tiga Ha areal persawahan.

Areal persawahan itu ditanami padi secara keseluruhan dengan bibit bervariasi. Mulai dari bibit jenis Mekongga, IR, Pandan Wangi dan Cigeulis.

Setiap musim panen, lanjut Syahabudin, untuk satu Ha lahan bisa menghasilkan 5,4 ton gabah. Jika setengah Ha lahan petani bisa menghasilkan gabah padi sekira 2,7 ton gabah kering.

Hasil gabah tersebut, jelas Syahabudin, tergantung dengan hama penyakit yang sedang menyerang tanaman padi pada setiap musim turun tanam.

''Satu hektare lahan bisa mendapatkan 120 karung beras ukuran 45 kg,'' kata Syahabudin.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini