Melihat Suku Lembak dan Tradisi Kenduri Nasi Santan Jelang Panen Raya

Demon Fajri, Okezone · Senin 22 Juni 2020 14:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 22 340 2234238 melihat-suku-lembak-dan-tradisi-kenduri-nasi-santan-jelang-panen-raya-YgLQvfovZy.jpeg Pembakaran kemenyan sebelum tradisi Kenduri Nasi Santan dimulai (Foto: Okezone/Demon)

Bukti Terima Kasih Kepada Allah SWT

Tradisi kenduri nasi santan utamanya dihelat masyarakat Lembak, di Kelurahan Jembatan Kecil, Panorama dan Kelurahan Dusun Besar, Kota Bengkulu, yang secara turun menurun dihelat masyarakat suku Lembak.

Namun, kata tokoh masyarakat suku Lembak Kelurahan Panorama, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu, Fachruddin, HN, sebenarnya jelang panen raya bukan hanya tradisi nasi santan. Melainkan ada tradisi ''kenduri penyulung''.

Kenduri penyulung, jelas Fachruddin, kenduri serba hitam. Mulai dari beras ketan hitam, telur ayam kumbang atau ayam hitam, tebu hitam. Di mana kenduri ini dihelat di tengah areal persawahan.

Selain itu, dalam prosesi kenduri ini juga menggunakan silat kemenyan atau membakar kemenyan. Dengan membacakan rambak atau menyampaikan puji dan syukur atas tanaman padi yang sudah memasuki musim panen, sekaligus memajatkan doa kepada Allah SWT.

Dalam suku Lembak, sampai Fachruddin, rambak disampaikan sebelum sebelum kenduri merupakan salah satu wujud bukti terima kasih kepada Allah SWT. Di mana dalam bahasa suku Lembak, rambak disampaikan 'yang patah ingin dibawa pulang semuanya, yang buta mau dituntun, yang lumpuh mau dipikul,'.

Maksud rambak tersebut, kata Fachruddin, semua hasil tanaman padi yang akan dipanen akan dibawa pulang. Di mana hasil panen tersebut merupakan rizki dari Allah SWT, yang harus disyukuri.

''Kenduri nasi santan maupun kenduri penyulung ini bukti kita terima kasih kepada Allah SWT, atas tanaman padi yang sudah waktunya diambil hasilnya,'' ujar Fachruddin.

Tradisi ini, sampai Fachruddin, sudah mulai luntur. Di mana, lanjut Fachruddin, di tempat lain sudah mulai ditinggalkan. Namun, kata Fachruddin, tradisi yang secara turun menurun dari orangtua ini tetap dilakukan masyarakat Lembak di Kelurahan Panorama, Jembatan Kecil, dan Dusun Besar, khususnya.

''Jadi tradisi ini dari orang tua terdahulu, yang masih kami kerjakan sampai saat ini,'' imbuh Fachruddin.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini