RAMALLAH - Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Kamis (3/9/2020) mengadakan pertemuan langka dengan faksi-faksi yang bersaing, mengupayakan sebuah front persatuan menyusul keputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.
Pertemuan yang diadakan melalui konferensi video itu menghubungkan Ramallah di Tepi Barat, yang merupakan pusat Otoritas Palestina (PA) yang dikuasai Fatah, dengan Beirut, di mana ketua Hamas Ismail Haniyeh dan Sekretaris Jenderal Jihad Islam Ziyad al-Nakhalah hadir.
BACA JUGA: Hadapi Rencana Aneksasi Tepi Barat Israel, Hamas dan Fatah Umumkan Persatuan
Pertemuan tingkat tinggi antara Fatah dan Hamas sangat jarang terjadi, setelah kedua kubu bertikai selama bertahu-tahun.
Warga Palestina kecewa dengan kesepakatan 'normalisasi' negara Teluk dengan Israel, melihatnya sebagai pengkhianatan yang kemungkinan besar akan melemahkan posisi pan-Arab lama yang menyerukan Israel untuk menarik diri dari wilayah pendudukan. Kesepakatan itu ditengahi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump,
Abbas telah menolak untuk berurusan dengan pemerintahan Trump selama lebih dari dua tahun, menuduhnya bias pro-Israel, dan menolak rencana perdamaian Trump di Timur Tengah, yang diumumkan pada Januari.
BACA JUGA: UEA dan Israel Sepakati Perjanjian Damai, Normalisasi Hubungan
"Pertemuan kami berada pada tahap yang sangat berbahaya, di mana tujuan nasional kami menghadapi berbagai plot dan bahaya," kata Abbas sebagaimana dilansir Reuters pada Kamis.
"Untuk berdiri bersama di tengah-tengah konfrontasi dan perlawanan rakyat yang damai terhadap pendudukan, saya mengundang Anda ke sini untuk menyetujui pembentukan kepemimpinan nasional."