Biden Menangi Pilpres AS, Israel Takut Terjadi Perang dengan Iran

Wikanto Arungbudoyo, Okezone · Sabtu 07 November 2020 15:46 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 07 18 2305843 biden-menangi-pilpres-as-israel-takut-terjadi-perang-dengan-iran-Od76VzLJnn.JPG Kemenangan Joe Biden bakal berdampak buruk buat Israel (Foto: Reuters/Kevin Lamarque)

TEL AVIV – Kemenangan calon presiden (capres) dari Partai Demokrat, Joe Biden, bakal berdampak buruk bagi Israel. Sebab, pria berusia 77 tahun itu secara terbuka menyatakan akan membawa Amerika Serikat (AS) kembali ke Perjanjian Nuklir Iran yang selama ini ditentang negara tersebut.

Potensi perang dengan Iran itu disampaikan oleh Menteri Perumahan Israel Tzachi Hanegbi. Ia mengaku tidak masalah dengan kemenangan Joe Biden, termasuk soal area permukiman Yahudi. Namun, kekhawatiran terbesar muncul akan ancaman perang terbuka dengan Iran.

“Biden sudah secara terbuka menginginkan AS kembali ke perjanjian nuklir. Saya melihatnya sebagai sesuatu yang dapat menggiring konfrontasi antara Israel dengan Iran,” ujar Tzachi Hanegbi, dikutip dari Jerusalem Post, Sabtu (7/11/2020).

Sekadar informasi, sebagian besar pejabat pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menilai Perjanjian Nuklir Iran yang bernama resmi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) 2015 itu sebagai sebuah kesalahan.

“Jika Biden tetap dengan bersikeras dengan kebijakan itu, maka pada akhirnya, akan muncul konfrontasi dengan kekerasan antara Israel dan Iran,” imbuh Hanegbi.

Baca juga: Beragam Reaksi Warga China terhadap Pilpres AS 2020

Menariknya JCPOA pada 2015 itu digagas oleh Presiden AS Barack Obama di mana ketika itu Joe Biden adalah wakilnya. Pendapat berbeda disampaikan Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Knesset (Parlemen Israel), Zvi Hauser, yang menilai Biden justru adalah teman sejati Israel.

“Menurut saya, sekali pun kesepakatan dengan Iran diperbarui, itu akan lebih baik dari yang sebelumnya. Ada kesepakatan luas bahwa perjanjian itu memiliki lubang yang signifikan dalam hal kepentingan dunia bebas," terang Zvi Hauser.

“Kondisi Timur Tengah saat ini berbeda di mana Iran lebih berbahaya. Senjata dan teknologi mereka lebih akurat serta mematikan. Ini bukan hanya masalah Israel, tetapi juga dunia,” imbuhnya.

JCPOA ditandatangani di Wina, Austria, pada 14 Juli 2015. Perjanjian itu ditandatangani oleh Iran bersama lima anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yakni China, Jerman, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat, plus Uni Eropa.

Dalam kesepakatan itu, Iran diharuskan menghentikan program nuklirnya serta menurunkan cadangan uranium dengan imbalan pencabutan sanksi internasional serta embargo senjata dalam jangka waktu lima tahun.

Akan tetapi, pada 2018, Donald Trump justru mengumumkan AS menarik diri secara sepihak dari kesepakatan itu. Akibatnya, Iran secara bertahap meninggalkan kewajibannya dan justru semakin mengembangkan persenjataan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini