Di Negara Ini, Ribuan Bus Pariwisata Berdebu, Tak Terurus Bagaikan "Kuburan"

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 20 November 2020 16:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 20 18 2313194 di-negara-ini-ribuan-bus-pariwisata-berdebu-tak-terurus-bagaikan-kuburan-tXUEiksSCB.jpg Foto: Reuters

HONG KONG - Pandemi Covid-19 memang menghantam berbagai sektor usaha. Tidak terkecuali sektor pariwisata. Di Hong Kong, ribuan bus pariwisata terlihat berbaris diam bagaikan “kuburan”. Bus-bus ini berkumpul dan berdebu di pelabuhan kontainer di Hong Kong.

Sektor pariwisata kota yang pernah berkembang pesat yang mempekerjakan sekitar 260.000 orang ini harus tersungkur karena larangan perjalanan dan penutupan perbatasan.

Sebelumnya, semua bus ini sempat keluar dari jalan raya selama sepuluh bulan sampai akhirnya pihak berwenang melarang semua kedatangan orang asing ke kota tersebut karena krisis kesehatan global.

Langkah tersebut secara efektif menghancurkan industri pariwisata Hong Kong yang sangat laris manis itu.

(Baca juga: Bos Pfizer: Hidup Normal Dimulai Pertengahan 2021)

Hong Kong diketahui menjadi kota wisata terkemuka di dunia tahun lalu dengan sekitar 56 juta pengunjung.

Sektor ini menyumbang sekitar 5% dari PDB Hong Kong, tetapi jumlahnya terus turun 96% hingga 99% tahun-ke-tahun setiap bulan sejak Februari lalu. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan bagi sekitar 260.000 orang yang langsung bekerja di sektor ini.

Freddy Yip adalah salah satunya. Yip yang menjabat sebagai Presiden Asosiasi Pemilik Agen Perjalanan Hong Kong mengatakan begitu subsidi gaji pemerintah berakhir pada November, bisnisnya bisa runtuh.

“Perusahaan saya, seperti perusahaan lain, tentunya mencari subsidi dari pemerintah. Begitu subsidi pemerintah berhenti, kami perlu memangkas semua biaya, pertahankan sekecil mungkin,” ujarnya, Reuters.

Program subsidi upah pertama kali diperkenalkan pada Juni lalu dan membantu sekitar dua juta karyawan di semua jenis industri. Sayangnya, pemerintah tidak akan melanjutkan skema ini karena dianggap menelan terlalu banyak biaya.

Tapi, industri pariwisata ini disebut-sebut akan mulai menggeliat lagi pada pekan ini. Nantinya ini akan memungkinkan sejumlah orang untuk bepergian antar kota.

Kendati demikian, pemandu wisata Mimi Cheung tidak optimis tentang seberapa besar peningkatan itu dan mengatakan orang akan menunda perjalanan itu karena faktor biaya.

“Saya tidak berpikir gelembung perjalanan akan membantu meningkatkan pariwisata. Singapura memiliki banyak peraturan,” terangnya.

Sementara itu, puluhan agen perjalanan telah memberi tahu stafnya untuk mengambil cuti tanpa bayaran mulai Desember mendatang, dengan alasan mereka tidak mampu lagi membayar gaji atau sewa.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini