(Baca juga: Kapolda Metro Ingin Seluruh Kasus Diselesaikan, Termasuk Habib Rizieq)
Lebih lanjut, Farid optimistis dengan pengalaman pasukan khusus dalam menejar kelompok teroris. “Selama ini sinergitas TNI dan Polri dalam memburu kelompok teroris cukup efektif mendesak pergerakan kelompok Ali Kalora. Hal ini terlihat dari pergerakan kelompok ini yang terus berpindah, dari Kabupaten Parigi Moutong hingga ke Kabupaten Sigi,” kata Farid.
Sekadar diingat Operasi Tinombala dimulai pada tanggal 10 Januari 2016, melibatkan sekitar 2.000 personel dari unsur TNI dan Polri pada tahun 2016 di wilayah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Operasi ini melibatkan satuan Brimob, Kostrad, Marinir, Raider, dan Kopassus. Menurut laporan TNI dan Polri, Operasi Tinombala kala itu berhasil membatasi ruang gerak kelompok Santoso dan membuat mereka berada dalam kondisi "terjepit dan kelaparan". Pada tanggal 18 Juli 2016, Santoso alias Abu Wardah tewas ditembak oleh Satuan Tugas Operasi Tinombala setelah terjadinya baku tembak di wilayah desa Tambarana.
Ketangguhan TNI-Polri Diuji
Kini, Tinombala yang didukung pasukan khusus TNI kembali terjun untuk mengejar kelompok MIT di medan yang tidak terbilang mudah ketangguhan dan sinergitas TNI Polri kini diuji. Dapatkah pasukan khusus TNI dan Tinombala menangkap 11 kepala yang sudah diumumkan sebagai DPO yang paling dicari?
Lembaga Indonesia Police Watch (IPW), salah satu yang meragukan kemampuan pasukan Tinombala dalam memburu kelompok MIT. Terlebih polisi, menurut Ketua Presidium IPW Neta S Pane, tidak memiliki pengalaman bertempur di hutan. Karena itu Polri dan TNI, menurut IPW, harus melakukan konsolidasi terlebih dahulu untuk menentukan tim pemburu.