Mantan Penghuni Kamp Xinjiang: Muslim Uighur Dipaksa Makan Daging Babi Setiap Jumat

Rahman Asmardika, Okezone · Sabtu 05 Desember 2020 10:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 05 18 2322129 mantan-penghuni-kamp-xinjiang-muslim-uighur-dipaksa-makan-daging-babi-setiap-jumat-lDXvWr4cdn.jpg Foto: Reuters.

JAKARTA - Muslim Uighur yang ditahan di kamp-kamp di Xinjiang, China dipaksa makan daging babi setiap Jumat. Hal itu diungkapkan Sayragul Sautbay, seorang mantan penghuni kamp yang dibebaskan lebih dari dua tahun lalu.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Sautbay menceritakan perlakuan dan penghinaan lain yang dialami Muslim Uighur dan minoritas lainnya di kamp-kamp tersebut, termasuk paksaan untuk mengonsumsi daging babi.

BACA JUGA: Lembaga Australia Laporkan China Hancurkan Ribuan Masjid di Xinjiang dalam 3 Tahun

“Setiap Jumat, kami dipaksa makan daging babi,” kata Sautbay menceritakan pengalamannya dalam wawancara dengan Al Jazeera. “Mereka sengaja memilih hari yang suci bagi umat Islam. Dan jika Anda menolaknya, Anda akan mendapatkan hukuman yang berat."

Dia menambahkan bahwa kebijakan tersebut dirancang untuk menimbulkan rasa malu dan bersalah pada para tahanan Muslim. Sautbay mengatakan bahwa dia "sulit untuk menjelaskan dengan kata-kata" emosi yang dirasakannya setiap kali makan daging babi itu.

“Saya merasa seperti saya adalah orang yang berbeda. Di sekitarku menjadi gelap. Sangat sulit untuk menerimanya, ”katanya.

Sautbay, seorang dokter yang kini tinggal di Swedia juga menceritakan pengalamannya dalam sebuah buku yang baru-baru ini diterbitkan. Di dalam buku itu, dia mengungkapkan secara detail mengenai penderitaan yang dialaminya, termasuk dipaksa menyaksikan pemukulan, dugaan pelecehan seksual dan sterilisasi paksa.

Kesaksian dari Sautbay dan lainnya memberikan indikasi tentang bagaimana China berusaha melakukan tindakan keras di Xinjiang dengan menyasar kepercayaan, budaya, dan agama dari sebagian besar etnis minoritas Muslim.

BACA JUGA: China Paksa Wanita Uighur Pakai Kontrasepsi untuk Tekan Populasi Minoritas Muslim

China telah menerapkan pengawasan luas di Xinjiang, dan sejak sekira 2017 membuka jaringan kamp di wilayah itu. Beijing membenarkan tindakan tersebut, dengan alasan diperlukan untuk melawan "ekstremisme".

Dokumen yang diperoleh Al Jazeera menunjukkan bahwa pembangunan pertanian juga telah menjadi bagian dari apa yang disebut oleh antropolog Jerman, yang juga cendekiawan Uighur, Adrian Zenz, sebagai kebijakan “sekularisasi”.

Menurut Zenz, dokumen dan artikel berita mendukung pembicaraan dalam komunitas Uighur bahwa ada upaya aktif mempromosikan dan memperluas peternakan babi di wilayah tersebut.

Zenz mencatat sebuah artikel berita, yang diterbitkan pada Mei, yang menggambarkan sebuah peternakan baru di daerah Kashgar selatan, yang bertujuan untuk menghasilkan 40.000 babi setiap tahun. Proyek ini diperkirakan akan menempati area seluas 25.000 meter persegi di sebuah kawasan industri di daerah Konaxahar Kashgar, yang berganti nama menjadi Shufu.

Pada November 2019, Administrator Tertinggi Xinjiang, Shohrat Zakir, bahwa wilayah otonom akan diubah menjadi "pusat peternakan babi".

Tindakan itu dianggap oleh orang Uighur, yang merupakan 90 persen dari populasi di kota dan daerah sekitar lokasi itu, sebagai penghinaan terhadap cara hidup mereka.

"Ini adalah bagian dari upaya untuk sepenuhnya memberantas budaya dan agama orang-orang di Xinjiang," kata Zenz kepada Al Jazeera.

“Ini adalah bagian dari strategi sekularisasi, mengubah Uighur menjadi sekuler dan mengindoktrinasi mereka untuk mengikuti partai komunis dan menjadi agnostik atau ateis,” tambahnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini