Bunuh 7 Orang, Buron Selama 20 Tahun, Wanita Ini Akhirnya Diadili

Susi Susanti, Koran SI · Rabu 23 Desember 2020 12:15 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 23 18 2332712 bunuh-7-orang-buron-selama-20-tahun-wanita-ini-akhirnya-diadili-O1OFNmyZOC.jpg Foto: CNN

CHINA - Seorang wanita yang dituduh membunuh tujuh orang telah diadili di China tenggara setelah melarikan diri selama 20 tahun.

Menurut pernyataan yang diposting oleh pengadilan di akun media sosial resmi Weibo, Lao Rongzhi, 46, muncul di Pengadilan Menengah Rakyat Nanchang di provinsi Jiangxi pada Senin (21/12),.

Surat kabar pemerintah Beijing Youth Daily mengatakan, Lao mengungkapkan permintaan maafnya kepada keluarga para korban dan mengklaim dia adalah seorang korban, yang dipaksa untuk membantu pacarnya, terpidana pembunuh Fa Ziying karena ketakutan.

Fa ditangkap pada Juli 1999. Ia didakwa atas tujuh pembunuhan dan dieksekusi pada Desember tahun itu.

“Keduanya berkonspirasi dan memiliki pembagian kerja yang jelas,” ujar pernyataan pengadilan Nanchang.

“Mereka bersama-sama melakukan kejahatan perampokan, penculikan dan pembunuhan yang disengaja di Nanchang, Wenzhou, Changzhou dan Hefei,” terangnya.

Lao mengatakan kepada pengadilan jika Fa “sangat kejam” dan selama hubungannya dengan dia, dia mengalami pelecehan fisik dan mental, dan dua kali keguguran.

Keduanya diketahui menjalin hubungan antara tahun 1996 dan 1999.

(Baca juga: Unik, Pohon Natal Terkecil di Dunia Dibuat dari 51 Atom)

Menurut pernyataan yang dirilis Biro Keamanan Umum Kota Xiamen tahun lalu, Setelah Fa ditangkap, Lao menggunakan banyak nama samaran untuk melarikan diri ke seluruh negeri. Dia melakukan perjalanan ke berbagai kota, dan mencari nafkah dengan melakukan pekerjaan paruh waktu di bar dan tempat hiburan lainnya.

Dia juga menjalani operasi untuk mengubah penampilannya agar tika mudah dikenali dan tidak ditangkap.

Lao ditangkap pada November tahun lalu di sebuah pusat perbelanjaan di kota tenggara Xiamen. Menurut pihak berwenang China, dia didakwa melakukan pembunuhan, perampokan, dan penculikan.

Di pengadilan, Lao mengatakan dia telah “hidup dalam kegelapan” selama dua dekade terakhir. Namun saat ini, dia akhirnya bisa tidur nyenyak dan tidak lagi hidup dalam ketakutan akan ditangkap polisi.

Sementara itu, Zhu Dahong, istri salah satu korban Lao, mengaku sulit menerima permohonan maaf dari terdakwa.

“Rasa sakit yang kami derita dalam dua dekade terakhir tidak bisa dihilangkan dengan permintaan maaf,” terangnya.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini