Share

Terdakwa Penipuan Investasi Biro Travel Umrah Divonis 1 Tahun 3 Bulan Penjara

Agus Warsudi, Koran SI · Jum'at 29 Januari 2021 10:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 29 525 2352822 terdakwa-penipuan-investasi-biro-travel-umrah-divonis-1-tahun-3-bulan-penjara-tt7KEjKYhG.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

BANDUNG - Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1A Khusus Bandung menjatuhkan vonis 1 tahun 3 bulan penjara kepada terdakwa Yusuf Abdul Latief. Terdakwa Yusuf dinyatakan terbukti melakukan penipuan menggunakan cek bodong terhadap korban Ayi Koswara.

Vonis tersebut lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang menuntut terdakwa Yusuf Abdul Latif selama 1 tahun 6 bulan atau 18 bulan penjara.

Sidang putusan yang dipimpin oleh ketua majelis hakim Girsang tersebut digelar secara virtual di PN Bandung, Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis 28 Januari 2021.

Baca Juga:  Ngaku Bisa Cairkan Pinjaman Bank Dunia, Pecatan Polisi Ditangkap

Ketua Majelis Hakim Girsang menyatakan, terdakwa Yusuf Abdul Latief terbukti melakukan penipuan menggunakan cek bodong. Sehingga terdakwa melanggar Pasal 378 KUHPidana.

"Majelis hakim menyatakan terdakwa Yusuf Abdul Latief telah melanggar Pasal 378 KUHP. Kemudian terdakwa dinyatakan bersalah dan harus dikenakan hukuman selama 1 tahun 3 bulan penjara," kata Girsang.

Sebelum menjatuhkan vonis, majelis hakim juga mempertimbangkan hal–hal meringankan dan memberatkan. Yang meringankan, terdakwa sopan selama menjalani persidangan. Sementara hal memberatkan, terdakwa Yusuf Abdul Latif telah merugikan orang lain.

Dalam uraian putusan hakim Girsang mengatakan, penipuan itu dilakukan pada Jumat 10 Februari 2017 bertempat di Bank Mandiri Cabang Surapati, Jalan PHH Mustofa, Kota Bandung.

Baca Juga:  Pasutri Tipu Pengusaha Rp39 Miliar, Ini Tips Polda Metro agar Terhindar Investasi Bodong

Peristiwa ini berawal dari perkenalan Korban Ayi Koswara dengan terdakwa Yusuf Abdul Latief di Makkah. Saat itu, terdakwa mengaku memiliki usaha memberangkatan jamaah umrah dengan nama Biro Travel Umrah Al Bayyinah yang berkantor di Kabupaten Garut.

Terdakwa Yusuf Abdul Latif menawarkan kepada Ayi Koswara kerja sama dalam memberangkatkan jamaah umrah dengan iming-iming keuntungan jika berinvestasi, dan menyampaikan bahwa telah banyak orang yang berinvestasi ke biro travel milik terdakwa.

Sekembali dari umrah pada Januari 2017 silam, terdakwa Yusuf Abdul Latief kembali menghubungi Ayi Koswara untuk bertemu di sebuah rumah makan di kawasan Jalan Pasteur, Kota Bandung.

Dalam pertemuan tersebut terdakwa Yusuf Abdul Latief kembali mengajak Ayi Koswara untuk berinvestasi di Biro Travel Umrah Al Bayyinah. Terdakwa menyatakan, berinvestasi ke Biro Travel Umrah Al Bayyinah, merupakan ladang ibadah.

Selain itu, terdakwa Yusuf Abdul Latif juga menyampaikan dirinya adalah anak seorang ulama besar sebuah pesantren di Garut. Terdakwa juga menyebutkan, Biro Travel Umrah Al Bayyinah telah memiliki kantor cabang di Tasikmalaya dan Garut.

Kemudian, saat itu juga terdakwa memperlihatkan testimoni beberapa jamaah yang telah diberangkatkan oleh tour dan travel Al Bayyinah. Karena bujuk perkataan yang disampaikan oleh terdakwa, Ayi Koswara menjadi tertarik sehingga berminat untuk berinvestasi di Biro travel milik terdakwa.

Supaya Ayi Koswara lebih percaya untuk investasi di biro travel yang diakui adalah milik terdakwa Yusuf, maka terdakwa membuat kesepakatan tersebut dalam surat-surat perjanjian.

Ucapan dan ada surat perjanjian itu membuat Ayi Koswara tertarik sehingga berminat untuk berinvestasi ke Biro Travel Umrah Al Bayyinah. Korban Ayi Koswara menginvestasikan dananya ke Biro Travel Umrah Al Bayyinah pada 10 Februari 2017. Dana investasi itu diserahkan kepada terdakwa Yusuf dalam tiga tahap, 10 Februari, 16 Februari, dan Desember 2017.

Kemudian, sesuai perjanjian kerja sama, jatuh tempo pada 2018. Namun setiap korban Ayi Koswara meminta kepada terdakwa untuk mengembalikan dana investasi di Biro Travel Umrah Al Bayyinah, terdakwa selalu berdalih.

Korban Ayi Koswara tetap berusaha menagih uang tersebut sesuai surat perjanjian yang dibuat oleh terdakwa Yusuf. Lantaran terus ditagih, terdakwa Yusuf berjanji mengembalikan sebagian dana.

Terdakwa Yusuf memberikan selembar cek dari bank Mandiri nomor GU 922190 sebesar Rp400 juta kepada korban Ayi Koswara. Ketika hendak diuangkan oleh Ayi Koswara, ternyata cek tersebut sudah ditutup alias cek bodong. agus warsudi

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini