Diduga Disiksa, Penyuka Sesama Jenis yang Kabur Telah Dikembalikan

Susi Susanti, Koran SI · Senin 08 Februari 2021 11:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 08 18 2358409 diduga-disiksa-penyuka-sesama-jenis-yang-kabur-telah-dikembalikan-KIO1Jow9h5.jpg Hubungan sesama jenis (Foto: Reuters)

CHECHNYA - Dua pria penyuka sesama jenis asal Chechnya yang melarikan diri ke Rusia setelah diduga disiksa telah dikembalikan ke Chechnya.

Jaringan LGBT Rusia mengatakan Salekh Magamadov dan Ismail Isayev telah ditangkap dan dikembalikan oleh polisi Rusia.

Kelompok itu mengatakan pihaknya membantu orang-orang itu melarikan diri ke Rusia tahun lalu untuk menghindari penangkapan oleh polisi Chechnya, yang secara resmi menjalankan saluran Telegram oposisi.

Kedua pria itu mengatakan mereka disiksa dan dipaksa merekam permintaan maaf melalui video.

Saat ini, jaringan LGBT Rusia mengatakan pasangan itu ditangkap pada Kamis (4/2) oleh polisi Rusia di apartemen mereka di Nizhny Novgorod, 450 kilometer timur Moskow.

(Baca juga: Kisah Inspiratif, Kakek 70 Tahun Ini Rela Seberangi Samudra Atlantik Demi Kumpulkan 19 Miliar)

Belum jelas alasan mengapa mereka ditahan.

Kelompok itu mengatakan mereka kemudian secara paksa dikembalikan ke pihak berwenang di Chechnya, sebuah republik selatan Rusia.

Sementara itu, pemimpin otoriter kawasan itu, Ramzan Kadyrov, secara konsisten membantah tuduhan penahanan ilegal dan pelanggaran hak asasi manusia.

Dia dan pejabat pemerintah lainnya bahkan menegaskan tidak ada anggota komunitas LGBT + di Chechnya.

Seorang juru bicara pemerintah juga menolak laporan itu dan menyebutnya sebagai "kebohongan total".

(Baca juga: Upaya Kudeta Haiti Digagalkan, Setidaknya 23 Orang Ditangkap)

Meskipun ada penyangkalan resmi, puluhan orang mengajukan tuduhan jika mereka telah ditahan dan disiksa oleh pihak berwenang karena orientasi seksual mereka.

Jaringan LGBT mengatakan para pria itu telah tiba di sebuah kantor polisi di kota Gudermes di Chechnya pada Sabtu (6/2).

"Mereka lelah dan ketakutan," kata juru bicara kelompok itu, Tim Bestsvet, kepada kantor berita AFP.

“Dalam tahanan otoritas Chechnya, orang-orang itu berada dalam bahaya mematikan,” tambahnya.

Kelompok itu telah memantau dugaan pelanggaran di Chechnya sejak 2017, ketika puluhan orang gay dilaporkan ditahan.

Pada 2019, kelompok itu menuduh gelombang baru penganiayaan dan pelanggaran, menuduh polisi Chechnya membunuh dua orang di bawah penyiksaan.

Salah satu korban penumpasan tahun 2017 berbicara secara anonim kepada BBC tentang pengalamannya saat ditahan.

Dia mengatakan dia menjadi sasaran penyiksaan - termasuk sengatan listrik dan pemukulan.

Diketahui, kaum gay dan minoritas seksual lainnya menghadapi penganiayaan sistematis di Chechnya yang didominasi Muslim, seiring homofobia yang tersebar luas.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini