Twitter Sebut Media China Sebagai 'Pejabat Pemerintah Inggris'

Agregasi Sindonews.com, · Jum'at 19 Februari 2021 06:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 19 18 2364617 twitter-sebut-media-china-sebagai-pejabat-pemerintah-inggris-7mNqpcclJq.jfif Twitter (Foto: Reuters)

WASHINGTONMedia sosial (medsos) berlogo burung terbang, Twitter memberi label "Pejabat Pemerintah Inggris Raya" pada surat kabar berbahasa Mandarin, The China Daily.

Sebagai informasi, The China Daily adalah surat kabar harian berbahasa Inggris yang dimiliki oleh Departemen Publikasi Partai Komunis China (PKC), dengan distribusi global yang dikelola oleh kantor-kantor di kota-kota seperti New York, Washington, London, dan Kathmandu. Pada Desember 2012, surat kabar itu juga menerbitkan edisi Afrika, diterbitkan di Nairobi, Kenya.

Setelah hampir satu dekade beroperasi, cukup mengejutkan ketika Twitter memutuskan untuk melabeli cabang Afrika dari surat kabar China itu sebagai "Pejabat Pemerintah Inggris."

Tidak ada yang lebih terkejut akan hal ini daripada kepala biro China Daily Uni Eropa, Chen Weihua. Seolah tak ingin kehilangan momen, Weihua pun mengambil kesempatani ini untuk menuduh raksasa teknologi itu untuk apa yang ia sebut sebagai "bias terhadap akun China."

(Baca juga: Demonstran Anti-Kudeta Myanmar Serukan Perusahaan-perusahaan Asing Tak Usah Bayar Pajak ke Pemerintahan Baru)

"BREAKING NEWS: OMG. Twitter memberi label Biro China Daily di Afrika yang berbasis di Nairobi "Pejabat Pemerintah Inggris Raya". Sekarang Twitter bukan hanya bias terhadap akun China (termasuk akun saya), tapi Twitter juga tidak tahu. Lelucon yang luar biasa! Memalukan," cuit Weihua.

Netizen yang sama bingungnya pun berbagi cemoohan dan rasa kecewa mereka pada kesalahan algoritma terserbut. Beberapa dari mereka menggambarkannya sebagai lelucon dan memalukan, sementara yang lain mengatakan kesalahan itu "hampir menghina."

Beberapa netizen tidak melewatkan kesempatan untuk menyindir Inggris, di tengah meningkatnya ketegangan antara London dan Beijing serta saling menyensor dan mencela penyiar nasional satu sama lain.

"Mereka akhirnya menemukan cara untuk melabeli akun sebagai tidak dapat dipercaya," sindir salah satu pengguna Twitter.

(Baca juga: WNI yang Terkena Musim Dingin Ekstrem di AS, Mati Listrik, Nyalakan Lilin, Tanpa Pemanas, hingga Pakai Jaket Tebal)

“Bisakah ini digunakan sebagai bukti untuk menuntut pembayaran gaji dari pemerintah Inggris?” cibir yang lain.

"Ups, itulah yang terjadi ketika sebuah perusahaan teknologi mempolitisasi segalanya dan bertindak sebagai penentu kebenaran," tulis seorang pengguna, yang jelas-jelas muak dengan sensor perusahaan yang berbasis di Silicon Valley itu seperti dikutip dari Russia Today, Jumat (19/2).

Twitter telah memulai kebijakan yang menargetkan akun milik negara atau afiliasinya pada musim panas 2020, yang ditujukan untuk membuat "memberikan pengalaman yang lebih transparan," tetapi mereka mungkin secara tidak sengaja mengungkap kekurangan dalam algoritma mereka sendiri dalam prosesnya.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini