Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Limun Soda dan Air Belanda Klaasesz Tjap Koetjing dari Semarang

Doddy Handoko , Jurnalis-Rabu, 03 Maret 2021 |06:30 WIB
Kisah Limun Soda dan Air Belanda Klaasesz Tjap Koetjing dari Semarang
Ilustrasi (Foto: Okezone)
A
A
A

Ketika dewan kota melarang semua papan reklamenya, Tillema tak kehabusan akal, ia menggunakan balon udara yang diterbangkan ke seluruh kota Semarang, bertuliskan merek Hygeia.

Dalam buku Outward Appearances: Trends, Identitas, Kepentingan, disebutkan, Tillema adalah orang pertama dalam sejarah Hindia yang menggunakan balon gas untuk mengiklankan produk-produknya.

Tillema juga mengunakan foto-foto yang pada awal abad 20 merupakan sebuah medium. Ia membuat sebuah buku berisi foto-foto wajah kota Semarang.

Di belakang bukunya ia memasang merek Hygeia dan di pinggirnya daftar harga anggur dan wisky. Setahun ia menghabiskan dana untuk reklame yang sangat besar. Namun ia segera menikmati hasilnya.

Dana besar yang ia keluarkan untuk reklamenya menjadi bahan pembicaraan sendiri. Ia berusaha membangun citra dirinya: "Tillema, apoteker yang dapat dipercaya dan bagi mereka yang percaya pada kemurnian. "

Ia membuat brosur dengan foto-foto dirinya dalam berbagai pose yang memperlihatkan bagaimana cara terbaik menuang sebotol Hygeia.

Foto-foto itu disertai teks: “Ajarilah para pembantoe Anda bagaimana mereka haroes menoeang Hygeia sehingga tidak banjak air bersoda yang terboeang”.

Dalam buku "Penghibur(an) Masa Lalu dan Budaya Hidup Masa Kini Indonesia" , menceritakan gaya hidup golongan priyayi baru di abad 20 - anggota Jong Java, Boedi Oetomo, atau Comite voor het Javaans Nationalisme - mengikuti kebiasaan Barat.

Air Belanda itu menjadi gaya hidup baru para priyayi jawa. Banyak para priyayi yang meniru gaya hidup barat, seperti pergi ke pesta, main kartu cara Eropa, juga minum air Belanda dan wiski soda.

Hendrik Freerk Tillema dilahirkan di desa Echten di tepi danau Tjeuke. Echten adalah sebuah desa di Friesland, Belanda. Ia lahir 5 Juli 1870. Sikke Tillema ayahnya adalah seorang kepala sekolah. Ketika Tillema berusia tujuh tahun, ibunya meninggal. Ayahnya yang membesarkan seorang diri dan menjadi panutannya.

Pada 1896 di usia 25 ia berangkat ke Hindia Timur. Di Semarang ia bekerja di ‘ Samarangsche-Apotheek milik firma R. Klaasesz en Co. Setelah tahun ketiga, ia diangkat menjadi rekanan di perusahaan itu.

Pada tahun 1899 ia dapat membeli perusahaan itu. Ia tetap mempertahankan nama Klaasesz en Co. Dalam usia belum genap 30 ia menjadi satu-satunya pemilik dan pemimpin di perusahaan itu.

Tillema sempat menjadi anggota dewan dan akhirnya kembali ke Negeri Belanda. Tillema vokall dalam mengkritisi sikap pendudukan Pemerintah Belanda . Setelah menetap di Belanda, ia beberapa kali kembali ke Indonesia dan sempat menulis beberapa buku seperti "Kromoblanda", "Zonder Tropen - Geen Europa " .

Ia membuat pula film dokumenter di Kalimantan, sebelum akhirnya meninggal pada tahun 1952 di salah satu Villanya di Bloomendaal-Belanda . Vila itu konon ia beri nama "Semarang".

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement