Demo Mahasiswa Papua Soal Otda di Semarang Berlangsung Ricuh Dibubarkan Polisi

Taufik Budi, Okezone · Jum'at 05 Maret 2021 14:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 05 340 2372921 demo-mahasiswa-papua-soal-otda-di-semarang-berlangsung-ricuh-dibubarkan-polisi-UD3BqVVVSs.jpg Demo mahasiswa Papua berlangsung ricu. (Foto:Okezone)

SEMARANG - Demo mahasiswa Papua di Jalan Pahlawan kawasan Patung Kuda Undip Kota Semarang, Jawa Tengah, berlangsung ricuh, pada Jumat (5/3/2021). Polisi langsung bertindak tegas dengan membubarkan massa.

Demo yang dimulai pukul 09.00 WIB itu, menyuarakan otonomi khusus Papua. Puluhan pengunjuk rasa menyampaikan aspirasi dan berlangsung kondusif. Meski begitu, para pendemo tak patuh protokol kesehatan. Mereka tak menjaga jarak bahkan ada yang tak pakai masker

Namun suasan berubah. Sekira pukul 10.45 WIB demo mulai tak terkendali. Massa mulai ricuh. Polisi yang melakukan pengamanan perlahan bertindak membubarkan massa.

Baca Juga: Diduga Rasis, Guru Besar USU Didemo Mahasiswa Papua di Medan

Kabag Operasi Polrestabes Semarang AKBP Recky berulang kali menyampaikan agar massa membubarkan diri secara tertib dan mandiri. Namun imbauan itu tak dihiraukan oleh massa.

Massa semakin menjadi ricuhnya. Polisi pun terpaksa membubarkan demo itu. Sekitar 30 demonstran yang diduga sebagai provokator kericuhan diamankan ke truk polisi dan dibawa ke Mapolrestabes Semarang.

Baca Juga: Proses Pelimpahan Berkas Perkara Surya Anta CS Disebut Cacat Prosedural

Sementara sisa demonstran diperintahkan membubarkan diri pulang ke rumah masing masing. Namun, yang terjadi malah mahasiswa Papua berpindah lokasi bertahan diri di pertigaan jalan Pleburan.

Di tempat tersebut, lagi-lagi terjadi kericuhan. Bahkan, ketika hendak dibubarkan seorang mahasiswa Papua malah terlibat adu argumen dengan Kasat Sabhara Polrestabes Semarang AKBP Aries Dwi Cahyanto. Massa bersikukuh tak mau bubar sebelum rekan rekannya yang diamankan ke kantor polisi bisa dibebaskan.

Wakapolrestabes Semarang AKBP IGA Perbawa Nugraha mengatakan penyampaian pendapat di muka umum pada dasarnya sangat dilindungi oleh negara. Namun berdasarkan kesepakatan aturan Satgas Corona Kota Semarang, selama pandemi demo tak diperbolehkan.

"Penyampaian aspirasi sangat dilindungi, apalagi di Kota Semarang. Tak ada penyampaian aspirasi yang kita larang. Setiap hari mau menyampaikan aspirasi pun boleh. Selagi itu memenuhi mekanisme yang ditetapkan negara," jelas AKBP IGA.

"Pemberitahuan unjuk rasa tidak kita terima. Bukan tidak ada izin tapi memang tapi memang tidak kita terima. Secara peraturan perundang L-undangan maupun peraturan Wali Kota Semarang terkait PPKM Mikro pemberlakuan di saat pandemi Covid-19, memang (unjuk rasa) tidak diperbolehkan. Semua sudah jelas, itu tidak diperbolehkan," ungkapnya.

Sementara terkait demonstran yang diamankan, mereka akan dimintai keterangan terkait aksi dan selanjutnya akan dilepas kembali.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini