Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

5 Puisi Karya Umbu Landu Paranggi, Salah Satunya 'Apa Ada Angin di Jakarta'

INews.id , Jurnalis-Selasa, 06 April 2021 |15:46 WIB
5 Puisi Karya Umbu Landu Paranggi, Salah Satunya 'Apa Ada Angin di Jakarta'
Umbu Landu Paranggi dan Cak Nun (Foto : caknun.com)
A
A
A

DENPASAR - Wafatnya penyair legendaris Umbu Landu Paranggi, menjadi duka bagi dunia sastra Indonesia. Penyair berjuluk Presiden Malioboro meninggal dunia dalam usia 77 tahun di Bali, Selasa (6/4/2021), dini hari.⁣ ⁣Umbu lahir di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, pada 10 Agustus 1943.

Dia juga dikenal sebagai guru bagi para penyair dan sejumlah sastrawan besar Indonesia. Alumnus jurusan Sosiatri, Fisipol UGM ini dikenal sebagai Presiden Malioboro.

Umbu kemudian pulang ke Sumba pada tahun 1975. Tiga tahun kemudian, dia menetap di Bali hingga meninggal. Semasa hidupnya, Umbu meraih banyak pencapaian dan pengakuan atas sepak terjangnya sebagai penyair.

Salah satunya Penghargaan Seni pada tahun 2019 dari Akademi Jakarta. Puisi-puisi karya Umbu banyak berbicara tentang spiritualitas. Puisi-pusinya juga mengungkapkan tentang kampung halamannya Sumba, Yogyakarta, dan Bali.

Berikut lima di antara puisi Umbu Landu Paranggi dari sekian banyak karyanya yang dikutip dari berbagai sumber:

1. Apa Ada Angin di Jakarta

Apa Ada Angin di Jakarta

Seperti dilepas desa Melati

Apa cintaku bisa lagi cari

Akar bukit Wonosari

Yang diam di dasar jiwaku

Terlontar jauh ke sudut kota

Kenangkanlah jua yang celaka

Orang usiran kota raya

Pulanglah ke desa

Membangun esok hari

Kembali ke huma berhati

Baca Juga : Penyair Umbu Landu Paranggi Meninggal karena Covid-19

2. Di Sebuah Gereja Gunung

Di Sebuah Gereja Gunung lonceng kecil yang bertalu,

memanggil-manggil belainya di tengah kesunyian,

minggu pagi yang cerah mereka pun berduyunlah ke sana:

warga petani dan gembala dalam dandanan sederhana,

bangkit dari kampung,

lembah bukit dan padang-padang sepi hidup dan kehidupan mereka di tanah warisan,

telah terpanggil dan lonceng gereja

lalang di lereng gunung itu

menuntun setia dalam galau kesibukan

mereka sehari-hari tak pernah lupa panggilan minggu:

di sini mereka, dalam gereja lalang dan bambu

-- berpadu memanjat doa dan terima kasih bagi kehidupan --

bagi kebutuhan hari ini, hari depan datanglah ketentraman

-- di antara sesama, pada malapetaka menimpa dunia ini --

pertikaian peperangan, damailah di surga di bumi ini:

mazmur mereka keyakinan yang telah terpatri, bersemi,

tak terikat ruang dan waktu juga dalam gereja lalang ini,

terpencil jauh dan sunyi jauh dari genteng,

kegaduhan listrik serta deru oto tak mengenal surat kabar,

jam radio ataupun televisi tapi keyakinan,

pegangan mereka adalah harapan dan kerinduan yang sama mentari

dan bulan yang bersinar di mana pun --

dan tuhan mendengar seru doa mereka

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement