3 Petinggi Pelindo III Bali Jadi Tersangka Kasus Penggelapan Dana Proyek Rp40 Miliar

Mohamad Chusna, Sindonews · Rabu 21 April 2021 05:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 21 244 2398126 3-petinggi-pelindo-iii-bali-jadi-tersangka-kasus-penggelaoan-dana-proyek-rp40-miliar-RmsmxL9jou.jpg Proyek PT Pelindo III (Foto : Istimewa)

DENPASAR - Sebanyak tiga orang petinggi PT Pelindo III ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Bali. Mereka diduga menggelapkan dana regasifikasi proyek pembangkit listrik dengan nilai Rp40 miliar.

"Ada tiga orang yang sudah ditetapkan menjadi tersangka," kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Bali Kombes Pol Yuliar Kus Nugroho, Selasa 20 April 2021.

Tersangka pertama yaitu Direktur Teknik PT Pelindo III Kokok Susanto. Dua tersangka lagi adalah bos PT Pelindo Energi Logistik (PEL), anak perusahaan PT Pelindo III, yaitu Wawan Sulistiawan yang menjabat Direktur Utama dan Irsyam Bakri selaku General Manager Regional Bali Nusa Tenggara.

Ketiga petinggi BUMN itu telah ditetapkan sebagai tersangka sejak 31 Maret 2021. Meski sudah hampir sebulan, mereka sampai saat ini belum dijebloskan ke sel tahanan.

Ketiganya dikenakan pelanggaran Pasal 372 junto Pasal 55 dan 56 KUHP. Penyidik masih menelusuri aliran dana yang digelapkan dan siapa saja penerimanya.

Yuliar menjelaskan, kasus ini bermula dari proyek penyediaan infrastruktur LNG untuk pembangkit listrik milik PT Indonesia Power (IP), anak perusahaan PT PLN.

Proyek yang berlokasi di dermaga selatan Pelabuhan Benoa itu dimulai tahun 2016. PT IP kemudian menggandeng PT PEL untuk merealisasikan proyek itu.

Untuk pengadaan, PT PEL kemudian menenderkan proyek kepada PT Benoa Gas Terminal (BGT) untuk membangun kapal floating storage unit (FSU) bernama Lumbung Dewata.

Kapal sepanjang 184,7 meter tersebut berfungsi untuk penyimpanan dan mengolah ulang (regasifikasi) LNG yang kemudian didisalurkan ke pembangkit listrik milik PT IP.

Baca Juga : Viral Emak-Emak Naik Motor Masuk Tol, Warganet: Yang Penting Bayar 

Setiap bulannya, PT IP membayar biaya regasifikasi sebesar Rp4 miliar. Dari situ, PT BGT memperoleh keuntungan sebanyak Rp2 miliar setiap bulannya.

Pada 2019, Kokok yang saat itu menjabat Direktur Utama PT PEL memerintahkan Irsyam Bakri untuk mengambil alih kapal Lumbung Dewata dengan dalih akan ada pergantian kru. Hal itu ditindaklanjuti oleh Wawan Sulistiawan dengan menempel stiker PT PEL di kapal itu.

PT BGT yang keberatan dengan ulah PT PEL itu akhirnya melapor ke Pola Bali, Januari 2021 lalu. "Dengan pengambilalihan sejak 2019, PT BGT mengalami kerugian hingga Rp40 miliar," ungkap Yuliar.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini