Kekerasan di Yerusalem, Dunia Internasional Imbau Kedua Pihak Menahan Diri

Agregasi VOA, · Senin 10 Mei 2021 05:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 10 18 2408170 kekerasan-di-yerusalem-internasional-imbau-kedua-pihak-menahan-diri-a2LYWBtv5p.jpg Kekerasan terjadi antara Palestina dan Yerusalem, (Foto: Reuters)

YERUSALEM - Ketegangan di Yerusalem timur memuncak pada Minggu (9/5), setelah ratusan warga Palestina terluka dalam bentrokan akhir pekan dengan pasukan keamanan Israel, memicu kekhawatiran global jika kerusuhan dapat menyebar lebih jauh.

Utusan Kuartet Timur Tengah: Uni Eropa, Rusia, Amerika serikat (AS), dan Perserikatan Bangssa-Bangsa (PBB) menyatakan "sangat prihatin" dan menyerukan kedua negara menahan diri. AS mendesak kedua pihak "menghindari langkah-langkah yang memperburuk ketegangan, termasuk penggusuran di Yerusalem timur, aktivitas permukiman, pembongkaran rumah dan aksi-aksi terorisme," kata Departemen Luar Negeri.

 Rusia mengatakan perampasan tanah dan properti di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem timur, adalah "pelanggaran hukum internasional". Yordania, penjaga Masjid Al Aqsa di Yerusalem timur, mengutuk "serangan barbar" Israel.

Paus Fransiskus, pada Minggu (9/5), juga meminta kedua pihak tenang. "Kekerasan hanya memicu kekerasan. Mari kita hentikan bentrokan ini," ujarnya.

Komisi Tinggi bagi Kembalinya Palestina bertemu di kota Gaza untuk membahas bentrokan tersebut.

(Baca juga: Indonesia Kecam Aksi Kekerasan Israel ke Warga Palestina di Masjid Al-Aqsa)

 Koordinator komisi Khalid al-Batesh mengatakan Komisi Nasional menyerukan komunitas internasional dan lembaga HAM agar mengambil tindakan serius untuk menghentikan terorisme Zionis, terutama jika menyangkut apa yang terjadi di kota Yerusalem.

Kekerasan di sekitar kompleks masjid Al-Aqsa itu, yang umumnya terjadi pada malam hari, adalah yang terburuk sejak 2017. Insiden ini didorong oleh upaya pemukim Yahudi selama bertahun-tahun untuk mengambil alih rumah-rumah orang Palestina di Yerusalem timur.

Sekitar 121 warga Palestina terluka dalam bentrokan Sabtu (8/5) malam. Banyak dari mereka terkena peluru karet dan granat kejut, kata Bulan Sabit Merah Palestina, menyampaikan jumlah korban terbaru. Polisi Israel mengatakan 17 petugas terluka.

Malam sebelumnya lebih 220 orang, umumnya warga Palestina, terluka setelah polisi Israel menyerbu Al-Aqsa. Menurut polisi warga Palestina melempar batu dan petasan ke arah petugas. Kekerasan itu memicu seruan internasional agar kedua pihak menahan diri.

(Baca juga: Polisi Israel Tambah Personel di Yerusalem Antisipasi Bentrok Susulan)

Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB menyerukan Israel agar menghentikan penggusuran paksa keluarga pengungsi Palestina yang tinggal di lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem timur, meskipun Israel mengklaim warga Palestina mengeksploitasi potensi penggusuran untuk memicu kerusuhan. Juru bicara komisaris tinggi PBB, Rupert Colville, mengatakan Yerusalem timur tetap menjadi bagian wilayah Palestina yang diduduki. Israel, penguasa pendudukan, tidak dapat menyita properti pribadi atau memaksakan hukum sendiri di wilayah pendudukan, termasuk Yerusalem timur.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membela tindakan Israel. "Kami akan menegakkan hukum dan ketertiban dengan tegas dan bertanggung jawab. Kami akan terus menjaga kebebasan beribadah bagi semua agama, tetapi kami tidak akan membiarkan gangguan kekerasan," tandasnya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut Israel sebagai "negara teror" dan mengatakan Turki akan selalu mendukung Palestina. Ia mendesak negara-negara Muslim agar bertindak.

Empat negara Arab yang telah menormalisasi hubungan dengan Israel: Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan - semuanya mengutuk tindakan Israel di Al-Aqsa. Mereka menyuarakan dukungan bagi demonstran Palestina. Sudan menyebut tindakan Israel di Yerusalem terhadap Palestina sebagai "penindasan", sedangkan Abu Dhabi mendesak pemerintah Israel "bertanggung jawab untuk meredam ketegangan." Kementerian luar negeri Tunisia menyerukan pertemuan Dewan Keamanan PBB Senin untuk membahas kekerasan yang meningkat.

Hari Sabtu (8/5) malam, ribuan warga Palestina memadati kompleks masjid Al-Aqsa untuk tarawih menyambut apa yang diyakini sebagai malam Lailatulkadar. Situs itu juga suci bagi orang Yahudi yang menyebutnya Temple Mount. Polisi Israel memblokir jalan menuju Al Aqsa untuk membatasi akses ke Kota Tua dan menghindari "kerusuhan dengan kekerasan", yang secara efektif mencegah ratusan umat Islam untuk salat.

Sementara itu, Jaksa Agung Israel pada Minggu (9/50 menangguhkan sidang pengadilan tentang rencana menggusur warga Palestina di Yerusalem, yang mengancam memicu lebih banyak kekerasan di kota itu dan meningkatkan kekhawatiran internasional. Sebelumnya, Mahkamah Agung, pada Senin (10/5), dijadwalkan mendengar banding atas rencana menggusur beberapa keluarga Palestina dari kawasan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur, yang direbut Israel dalam perang pada 1967.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini