Share

Mantan Guru Cetak Rekor Sebagai Perempuan Tercepat yang Mencapai Puncak Everest

Agregasi BBC Indonesia, · Selasa 01 Juni 2021 16:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 01 18 2418547 mantan-guru-cetak-rekor-sebagai-perempuan-tercepat-yang-mencapai-puncak-everest-GrL2VqRptS.jpg Tsang Ying Hung mengaku tak kepikiran untuk mencetak rekor saat mendaki Gunung Everest. (Foto: Reuters)

KATHMANDU - "Gantungkanlah cita-citamu setinggi mungkin," kata Tsang Yin Hung, mantan guru di Hong Kong kepada para wartawan di Nepal. Itu adalah ungkapan yang selalu dia lontarkan kepada teman-temannya sebelum mencetak rekor sebagai perempuan tercepat yang mendaki Gunung Everest pada Minggu (23/5/2021).

Tsang, (45 tahun), mencapai puncak gunung tertinggi di dunia itu dari base camp dalam waktu 25 jam dan 50 menit. Capaian itu lebih cepat 12 jam dari rekor sebelumnya yang dicetak pendaki asal Nepal pada 2017.

BACA JUGA: Pendaki Ini Sukses Jadi Wanita Pertama Arab yang Taklukkan Gunung Everest

"Saya cukup merasa lega dan senang karena saya sebenarnya tidak ingin mencetak rekor apapun. Saya cuma (ingin) menantang diri sendiri," kata Tsang kepada media di ibu kota Nepal, Kathmandu, pada Minggu (30/5/2021) setelah kembali dengan selamat dari Everest.

Tsang adalah satu dari tiga pendaki yang mencetak rekor baru di Everest dalam beberapa hari terakhir.

Pada 23 Mei lalu pula seorang pria 75 tahun bernama Arthur Muir menjadi orang Amerika tertua yang menaklukkan puncak Everest. Sehari kemudian, warga China berusia 46 tahun, Zhang Hong, berstatus tuna netra pertama dari Asia yang mencapai puncak gunung itu.

Mereka bertiga termasuk ratusan pendaki yang sudah mencapai puncak Everest di musim semi tahun ini.

BACA JUGA: China Tutup Jalur ke Gunung Everest, Batalkan Musim Pendakian

Keberhasilan itu mereka raih di tengah kenaikan kasus penularan covid melanda Nepal dan juga basis pendakian Everest sejak pertengahan April.

Pemerintah Nepal membuka kembali pendakian Gunung Everest bagi warga asing pada April setelah ditutup selama setahun karena pandemi.

'Saya merasa lega'

Tsang sebelumnya mencoba mencapai puncak gunung pada 11 Mei lalu, namun cuaca buruk memaksanya kembali ke base camp. Namun, dengan tekad kuat, seminggu kemudian dia coba lagi.

Dia meninggalkan base camp pada pukul 13:20 waktu setempat pada 22 Mei dan esoknya sampai di puncak pada pukul 15:10, ungkap pejabat Nepal kepada kantor berita AFP.

Biasanya butuh berhari-hari bagi pendaki dari berbagai base camp untuk mencapai puncak gunung.

Tsang mematahkan rekor yang dibuat pada 2017 oleh seorang perempuan pendaki asal Nepal, Phunjo Jhangmu Lama, yang mencapai puncak Everest dalam 39 jam dan enam menit.

Bagi Tsang, keberhasilannya itu ditentukan oleh kemampuan pribadi, kerja tim, dan keberuntungan. Namun bagi dia, mencetak rekor baru merupakan hal tidak dia pikirkan sebelumnya.

"Saya selalu bilang kepada tim, teman-teman saya, gantungkanlah cita-cita setinggi langit," kata Tsang seperti dikutip kantor berita Reuters. "Jadi saya merasa lega karena saya bisa membuktikan upaya saya kepada teman-teman dan juga kepada para murid."

'Tekad yang kuat' di atas segalanya

Sedangkan tuna netra dari China, Zhang, mencapai puncak gunung setinggi 8.849 meter itu pada 24 Mei.

Dia sudah kehilangan indera penglihatan pada usia 21 tahun karena glaukoma, yaitu kerusakan saraf mata.

Zhang, yang lahir di kota Chongqing, China bagian barat daya, ditemani oleh tiga pemandu selama pendakian.

"Apakah kita cacat atau normal, sudah tidak bisa melihat atau tidak punya kaki atau tangan, itu tidak akan jadi masalah selama kita punya tekad yang kuat," kata Zhang kepada Reuters.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini