Pengadilan Pakistan Batalkan Vonis Hukuman Mati Atas Penistaan Agama Pasangan Kristen

Susi Susanti, Koran SI · Sabtu 05 Juni 2021 13:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 05 18 2420617 pengadilan-pakistan-batalkan-vonis-hukuman-mati-atas-penistaan-agama-pasangan-kristen-v12ubL3Gjg.jpg Ilustrasi pengadilan (Foto: Shutterstock)

LAHORE - Pengadilan Pakistan pada Kamis (3/6) membatalkan hukuman mati terhadap pasangan yang beragama Kristen dalam kasus penistaan agama, membebaskan mereka karena kurangnya bukti setelah mereka menghabiskan tujuh tahun penjara di tuntutan hukuman mati.

sebelumnya pada 2014, pengadilan yang lebih rendah telah menjatuhkan hukuman mati pada Shafqat Emmanuel, seorang penjaga di sebuah pabrik, dan istrinya, Shagufta Kausar  karena diduga mengirim pernyataan menghina tentang nabi Muslim Muhammad dalam pesan teks kepada pria lain, Khalid Maqsood.

Pengacara pasangan itu, Saif-ul-Malook, mengatakan kepada Reuters bahwa Pengadilan Tinggi Lahore telah membebaskan pasangan itu dalam kasus di pusat kota Toba Tek Singh.

Perintah rinci pengadilan diharapkan akan diumumkan dalam dua hari ke depan.

Sementara itu, jaksa penuntut umum Ghulam Mustafa Chaudhry mengatakan kepada Reuters jika pihaknya akan menggunakan semua upaya hukum yang tersedia untuk melawan keputusan tersebut.

"Keputusan hari ini mengakhiri cobaan berat selama tujuh tahun dari pasangan yang seharusnya tidak dihukum atau menghadapi hukuman mati," kata Wakil Direktur Asia Selatan Amnesty International Dinushika Dissanayake dalam sebuah pernyataan.

(Baca juga: Inggris Setujui Vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech untuk Remaja 12 - 15 Tahun)

Dia menyerukan pihak berwenang untuk memberikan keamanan kepada pasangan dan pengacara mereka.

Seperti diketahui, menghina Nabi akan menghadapi hukuman mati di negara berpenduduk mayoritas Muslim. Undang-undang penistaan agama di Pakistan telah lama dikritik oleh kelompok hak asasi global.

Pasangan yang dibebaskan itu dikaitkan dengan resolusi Parlemen Uni Eropa yang disahkan pada April lalu yang menyerukan untuk mencabut pengecualian perdagangan yang diberikan oleh blok itu untuk ekspor Pakistan, dengan mengatakan negara itu telah gagal membendung meningkatnya tuduhan penistaan agama.

(Baca juga: Kisah Wanita yang Berjalan Kaki Keliling Dunia Sendirian, Tinggalkan Hidup yang Sudah Mapan)

Pakistan sering dilanda kekerasan main hakim sendiri terhadap orang-orang yang dituduh melakukan penistaan. Bulan lalu, massa masuk ke kantor polisi di pinggiran ibu kota, Islamabad, dalam upaya untuk menghukum mati dua pria yang dituduh menodai sebuah masjid.

(sst)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini