Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Lewat Lukisan dan Artefak, Belanda Hadapi Masa Lalu sebagai Bangsa Penjajah

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Minggu, 06 Juni 2021 |06:54 WIB
Lewat Lukisan dan Artefak, Belanda Hadapi Masa Lalu sebagai Bangsa Penjajah
Lukisan karya Jacob Coeman menggambarkan perbudakan di Belanda. (Foto : BBC)
A
A
A

SEBUAH pameran di Rijksmuseum berupaya menjelajahi kisah kelam perbudakan dengan menampilkan karya-karya seni yang dibuat di era Zaman Keemasan Belanda. Cath Pond menelisiknya.

Potret berukuran besar karya Rembrandt yang menampilkan Oopjen Coppit dan suaminya, Marten Soolmans, adalah dua di antara sederet harta tak ternilai milik Rijksmuseum di Amsterdam—museum seni dan sejarah Belanda paling bergengsi.

Dengan balutan busana mewah dan dilukis menggunakan teknik yang hanya bisa dipesan orang-orang kaya zaman itu, pasangan tersebut adalah wujud nyata era kemakmuran ekonomi dan kejayaan artistik yang biasa disebut 'Zaman Keemasan Belanda'.

Namun, jika diselami lebih dalam, kedua potret ini juga membeberkan kisah yang rumit dan meresahkan. Pasangan Soolmans menumpuk kekayaan dengan berinvestasi pada pemurnian gula yang diproduksi para budak di sejumlah perkebunan di Brasil.

Lebih dari 250 tahun Belanda menjajah beberapa wilayah yang kini menjadi Indonesia, Afrika Selatan, Curaçao, dan lain sebagainya. Di tempat-tempat inilah, Belanda memperlakukan budak pria, perempuan, dan anak-anak tidak selayaknya manusia.

Perbudakan kerap disangka sebagai sesuatu yang dilakukan sekelompok kecil komunitas di luar negeri Belanda. Namun, sebuah pameran baru di Rijksmuseum membuat terobosan dengan mengungkap bagaimana perbudakan menyebar ke setiap bidang masyarakat, baik di wilayah jajahan maupun di Belanda. Perbudakan pun menjadi warisan yang masih berimbas ke masyarakat Belanda hingga kini.

"Bukan hanya elite (yang terlibat perbudakan), tapi juga para tukang yang hidup sebagai subkontraktor, seperti pandai besi atau tukang kayu yang bekerja di galangan kapal, atau juru tulis yang membuat kontrak. Jika Anda melihat seluruh rantainya, maka (perbudakan) meresap lebih dalam di masyarakat Belanda dari yang kita kira sebelumnya. Saya pikir penting untuk memberitahu para pengunjung bahwa sejarah bukan hanya terjadi di tempat yang jauh di wilayah jajahan, tapi ini adalah sejarah nasional kami dan melibatkan kita semua," kata kurator sejarah Rijksmuseum, Eveline Sint Nicolaas, kepada BBC Culture.

Baca Juga : Kisah Tragis Budak Belian, Dijual 10 Dollar, Dicambuk dan Jadi Pemuas Nafsu

Kaum Protestan Belanda awalnya enggan melibatkan diri ke dalam perdagangan budak. Bahkan, seorang pendeta menyebut perbudakan sebagai "penyimpangan kepausan" yang dilakukan orang Spanyol dan Portugis.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement