Akan tetapi sikap ini mulai berubah ketika Belanda meluaskan penjelajahan ke luar negeri.
"Menjadi jelas jika kita ingin bersaing dan merebut dari Portugis, maka Belanda harus berpartisipasi dalam perdagangan budak. Itu menyebabkan perubahan dalam pesan yang disebarkan gereja," kata Sint Nicolaas.
"Mereka (pihak gereja) mencari kisah-kisah dalam Alkitab untuk membenarkan perbudakan dan berargumen bahwa Perjanjian Lama menyebutkan perbudakan diterima ketika Nabi Nuh mengutuk keturunan Ham menjadi budak," sambungnya.
Dalam kisah itu, Alkitab sama sekali tidak menyebut bahwa Ham adalah kulit hitam.
"Argumen ini sedemikian pelik sehingga saya selalu sulit memahami mengapa itu dimungkinkan...tapi hanya sedikit pendeta yang mempertanyakannya, padahal ada bagian menurunkan derajat 'kaum lain' sebagai manusia," ujar Sint Nicolaas.
"Saya pikir penting untuk menyebutkan rasialisme bukanlah sesuatu yang selalu eksis," kata kepala bidang sejarah Rijksmuseum, Valika Smeulders.
"Diskriminasi bersifat universal, namun melegalisasinya sebagai sistem yang membuat sebuah kelompok manusia tertentu melayani kelompok lainnya, itu adalah sesuatu yang diterapkan penjajahan. Pada akhirnya penjajahan dikuatkan oleh gagasan-gagasan rasis yang 'ilmiah'. Rasialisme dilahirkan penjajahan, bukan sebaliknya."
Bagi rakyat Belanda, memahami sejarah ini sama dengan menghadapi kebenaran yang menyakitkan. Apalagi rakyat Belanda lama menganggap diri mereka sebagai orang-orang yang toleran.
Pihak Rijksmuseum sendiri menyadari bahwa mereka lamban dalam mengisahkan cerita-cerita perbudakan. "Kami pikir tidak ada obyek untuk menceritakan kisah ini dan itu adalah halangan besar di awal," jelas Sint Nicolaas.
Sejarah yang personal
Pameran ini sudah direncanakan selama bertahun-tahun. Bahkan, Rijksmuseum sampai harus memperkerjakan sejumlah staf baru yang profesional di bidangnya serta punya riwayat keluarga yang relevan.
Ambil contoh kepala bidang sejarah Rijksmuseum, Valika Smeulders. Dia lahir di Curaçao, kemudian hijrah dari Belanda ke Suriname pada 1976 ketika negara itu merdeka.
"Nenek moyang saya berasal dari Eropa, Afrika, dan Asia. Mereka orang yang memperbudak, diperbudak, dan pekerja migran. Sejarah kolonial rumit ini diterima di Karibia pada laju yang lebih cepat ketimbang di Eropa. Namun kini kami mengikuti hal serupa," katanya.
Baca Juga : Kekuatan Militer Era Bung Karno Membuat Belanda Angkat Kaki dari Papua
Pihak museum kemudian memutuskan untuk fokus pada kisah-kisah individu yang terlibat dalam sistem perbudakan—mereka yang diuntungkan, mereka yang menderita, dan mereka yang memberontak melawan.