Beijing Desak NATO untuk Berhenti Besar-besarkan "Teori Ancaman China"

Antara, · Selasa 15 Juni 2021 18:04 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 15 18 2425644 beijing-desak-nato-untuk-berhenti-besar-besarkan-teori-ancaman-china-8RozfHUi4u.jpg Foto: Reuters.

BEIJING - Misi China untuk Uni Eropa (EU) mendesak Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk berhenti membesar-besarkan "teori ancaman China", setelah para pemimpin kelompok itu memperingatkan bahwa Beijing menghadirkan "tantangan sistemik".

Para pemimpin NATO pada Senin (14/6/2021) telah mengambil sikap tegas terhadap Beijing dalam sebuah komunike pada pertemuan puncak pertama Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dengan aliansi tersebut.

BACA JUGA: NATO Peringatkan Ancaman Militer yang Ditimbulkan China

“Ambisi dan perilaku tegas China menghadirkan tantangan sistemik bagi tatanan internasional berbasis aturan dan area yang relevan dengan keamanan aliansi,” kata para pemimpin NATO.

Presiden AS yang baru telah mendesak sesama pemimpin NATO untuk menentang otoritarianisme China dan kekuatan militer yang meningkat, sebuah perubahan fokus untuk aliansi yang dibuat untuk mempertahankan Eropa dari Uni Soviet selama Perang Dingin.

Pernyataan NATO "memfitnah" pembangunan damai China, salah menilai situasi internasional, dan menunjukkan "mentalitas Perang Dingin", kata Beijing melalui unggahannya di situs resmi Misi China untuk EU pada Selasa.

"Kami tidak akan menimbulkan 'tantangan sistemik' kepada siapa pun, tetapi jika ada yang ingin mengajukan 'tantangan sistemik' kepada kami, kami tidak akan mendiamkan," kata China.

BACA JUGA: Biden Bertemu Erdogan di Sela-sela KTT NATO

Sebelumnya, Pertemuan negara-negara Kelompok Tujuh (G7) di Inggris selama akhir pekan menyinggung China atas kasus hak asasi manusia di wilayah Xinjiang, menyerukan Hong Kong untuk menjaga otonomi tingkat tinggi, dan menuntut penyelidikan penuh tentang asal-usul virus corona di China.

Kedutaan Besar China di London mengatakan dengan tegas menentang penyebutan Xinjiang, Hong Kong, dan Taiwan, yang dikatakannya memutarbalikkan fakta dan mengungkap "niat jahat dari beberapa negara seperti Amerika Serikat."

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini