Share

Turki Resmi Keluar dari Perjanjian Cegah Kekerasan terhadap Perempuan, Tuai Kecaman

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 02 Juli 2021 12:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 02 18 2434388 turki-resmi-keluar-dari-perjanjian-cegah-kekerasan-terhadap-perempuan-tuai-kecaman-HJG7ll4EFb.jpg Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan (Foto: Science Photo Library)

ANKARATurki secara resmi menarik diri pada Kamis (1/7) dari perjanjian internasional untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan. Hal ini sontak menuai kecaman dari banyak orang Turki dan sekutu Barat ketika Presiden Turki Tayyip Erdogan mengumumkannya pada Maret lalu.

Ribuan orang akan melakukan protes di seluruh Turki, seiring banding pengadilan untuk menghentikan penarikan itu ditolak minggu ini.

“Kami akan melanjutkan perjuangan kami,” Canan Gullu, Presiden Federasi Asosiasi Wanita Turki, pada Rabu (30/6).

"Turki menembak dirinya sendiri dengan keputusan ini,” ujarnya.

Dia mengatakan sejak Maret lalu, perempuan dan kelompok rentan lainnya lebih enggan untuk meminta bantuan dan cenderung tidak menerimanya, terkait masalah Covid-19 memicu kesulitan ekonomi yang menyebabkan peningkatan dramatis dalam kekerasan terhadap mereka.

Konvensi Istanbul, yang dinegosiasikan di kota terbesar Turki dan ditandatangani pada 2011, mengikat para penandatangannya untuk mencegah dan menuntut kekerasan dalam rumah tangga dan mempromosikan kesetaraan.

(Baca juga: Uni Eropa Akan Stop Peternakan Hewan dalam Kandang, Disambut Baik)

Keputusan Turki ini memicu kecaman dari Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (EU). Para kritikus mengatakan hal itu membuat Turki semakin tidak sejalan dengan blok yang diajukannya untuk bergabung pada 1987.

Femisida telah melonjak di Turki, dengan satu kelompok pemantau mencatat kira-kira satu per hari dalam lima tahun terakhir.

Para pendukung konvensi dan undang-undang terkait mengatakan diperlukan implementasi yang lebih ketat.

Tetapi banyak kaum konservatif di Turki dan di Partai AK yang berakar Islamis Erdogan mengatakan pakta itu merusak struktur keluarga yang melindungi masyarakat.

(Baca juga: Banyak Intimidasi dan Pelecehan Seksual, Tim Football Washington Didenda Rp145 Miliar)

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Beberapa juga melihat Konvensi mempromosikan homoseksualitas melalui prinsip non-diskriminasi atas dasar orientasi seksual.

"Penarikan negara kami dari konvensi tidak akan menyebabkan kekurangan hukum atau praktis dalam pencegahan kekerasan terhadap perempuan," kata kantor Erdogan dalam sebuah pernyataan kepada pengadilan administrasi pada Selasa (29/6).

Bulan ini, Komisaris Dewan Eropa untuk Hak Asasi Manusia (HAM) Dunja Mijatovic mengirim surat kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kehakiman Turki yang menyatakan keprihatinan tentang meningkatnya narasi homofobia oleh beberapa pejabat, beberapa di antaranya menargetkan konvensi.

"Semua tindakan yang diatur oleh Konvensi Istanbul memperkuat fondasi dan hubungan keluarga dengan mencegah dan memerangi penyebab utama kehancuran keluarga, yaitu kekerasan," terangnya.

Amnesty International mengatakan keputusan itu "mengatur waktu sepuluh tahun untuk hak-hak perempuan dan menetapkan preseden yang mengerikan."

"Penarikan itu mengirimkan pesan yang sembrono dan berbahaya kepada para pelaku yang menyalahgunakan, melukai, dan membunuh: bahwa mereka dapat terus melakukannya tanpa mendapat hukuman," tegas Sekretaris Jenderal Amnesty International Agnès Callamard.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini