Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Divonis Kanker Prostat, Ini Profil SBY Prajurit Baret Hijau Mantan Presiden RI

Mohammad Adrianto S , Jurnalis-Selasa, 02 November 2021 |15:19 WIB
Divonis Kanker Prostat, Ini Profil SBY Prajurit Baret Hijau Mantan Presiden RI
Divonis kanker prostat, ini profil sby/ ist
A
A
A

JAKARTA - Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menderita kanker prostat. Kabar mengenai kondisi SBY yang juga Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu disampaikan oleh staf pribadinya Ossy Dermawan. SBY pun akan menjalani perawatan medis kanker prostat di Kota Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat setidaknya selama 1,5 bulan.

(Baca juga: SBY Akan Dirawat di AS Selama 1,5 Bulan)

Menyadur dari situs resmi Perpustakaan Nasional, lulusan terbaik Akabari (1973) yang akrab disapa SBY ini lahir di Pacitan, Jawa Timur 9 September 1949. Istrinya bernama Kristiani Herawati, merupakan putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo.

Pensiunan jenderal berbintang empat ini adalah anak tunggal dari pasangan R. Soekotjo dan Sitti Habibah. Darah prajurit menurun dari ayahnya yang pensiun sebagai Letnan Satu. Sementara ibunya, Sitti Habibah, putri salah seorang pendiri Ponpes Tremas.

(Baca juga: SBY Kena Kanker Prostat, Kenali Pemicunya)

SBY memiliki 2 orang putra, yakni Agus Harimurti Yudhoyono, yang mengikuti dan menyamai jejak dan prestasi SBY, lulus dari Akabri tahun 2000 dengan meraih penghargaan Bintang Adhi Makayasa, dan Edhie Baskoro Yudhoyono, menjadi lulusan terbaik SMA Taruna Nusantara, Magelang yang kemudian menekuni ilmu ekonomi.

Pendidikan SR merupakan pijakan masa depan paling menentukan dalam diri SBY. Ketika duduk di bangku kelas lima, beliau untuk pertamakali kenal dan akrab dengan nama Akademi Militer Nasional (AMN), Magelang, Jawa Tengah, yang kemudian hari AMN berubah nama menjadi Akabri.

SBY masuk SMP Negeri Pacitan, terletak di selatan alun-alun, sekolah idola bagi anak-anak Kota Pacitan. Mewarisi sikap ayahnya yang berdisiplin keras, SBY berjuang untuk mewujudkan cita-cita masa kecilnya menjadi tentara dengan masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) setelah lulus SMA akhir tahun 1968.

Namun, karena terlambat mendaftar, SBY tidak langsung masuk Akabri. Dirinya pun sempat mengenyam pendidikan sebagai mahasiswa Teknik Mesin Institut 10 November Surabaya (ITS).

Tetapi, SBY justru memilih masuk Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) di Malang, Jawa Timur. Sewaktu belajar di PGSLP Malang itu, beliau mempersiapkan diri untuk masuk Akabri. Tahun 1970, akhirnya masuk Akabri di Magelang, Jawa Tengah, setelah lulus ujian penerimaan akhir di Bandung.

SBY satu angkatan dengan Agus Wirahadikusumah, Ryamizard Ryacudu, dan Prabowo Subianto. Semasa pendidikan, SBY yang mendapat julukan Jerapah, karena terkenal sebagai orang yang sangat menonjol di berbagai aspek. Terbukti, beliau meraih predikat lulusan terbaik Akabri 1973 dengan menerima penghargaan lencana Adhi Makasaya.

Pendidikan militernya dilanjutkan di Airborne and Ranger Course di Fort Benning, Georgia, AS (1976), Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, Georgia, AS (1982-1983) dengan meraih honor graduate, Jungle Warfare Training di Panama (1983), Anti Tank Weapon Course di Belgia dan Jerman (1984), Kursus Komandan Batalyon di Bandung (1985), Seskoad di Bandung (1988-1989) dan Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, AS (1990-1991).

Gelar MA juga dia peroleh dari Webster University AS. Perjalanan karier militernya, dimulai dengan memangku jabatan sebagai Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (Komandan Peleton III di Kompi Senapan A, Batalyon Infantri Lintas Udara 330/Tri Dharma, Kostrad) tahun 1974-1976, membawahi langsung sekitar 30 prajurit.

Batalyon Linud 330 merupakan salah satu dari tiga batalyon di Brigade Infantri Lintas Udara 17 Kujang I/Kostrad, yang memiliki nama harum dalam berbagai operasi militer. Ketiga batalyon itu ialah Batalyon Infantri Lintas Udara 330/Tri Dharma, Batalyon Infantri Lintas Udara 328/Dirgahayu, dan Batalyon Infantri Lintas Udara 305/Tengkorak.

SBY yang fasih berbahasa Inggris, membuatnya terpilih mengikuti pendidikan lintas udara (airborne) dan pendidikan pasukan komando (ranger) di Pusat Pendidikan Angkatan Darat Amerika Serikat, Ford Benning, Georgia, 1975. Setelah pulang ke Indonesia, SBY memangku jabatan Komandan Peleton II Kompi A Batalyon Linud 305/Tengkorak (Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad) tahun 1976-1977. Beliau pun memimpin Pleton ini bertempur di Timor Timur.

Sepulang dari Timor Timur, SBY menjadi Komandan Peleton Mortir 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977). Setelah itu, beliau ditempatkan sebagai Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978), Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981), dan Paban Muda Sops SUAD (1981-1982). Ketika bertugas di Mabes TNI-AD, itu SBY kembali mendapat kesempatan sekolah ke Amerika Serikat.

Dari tahun 1982 hingga 1983, beliau mengikuti Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983 serta praktek kerja-On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983. SBY juga mengikuti Jungle Warfare School, Panama, 1983 dan Antitank Weapon Course di Belgia dan Jerman, 1984, serta Kursus Komando Batalyon, 1985. Pada saat bersamaan SBY menjabat Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985).

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement