Pembantu Aniaya Majikan, Jambak Rambut hingga Tampar Mulut

Susi Susanti, Okezone · Senin 06 Desember 2021 14:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 06 18 2512661 pembantu-aniaya-majikan-jambak-rambut-hingga-tampar-mulut-ScHUsvtS16.jpeg Pembantu aniaya majikan yang sudah tua (Foto: Nuria Ling/Today)

SINGAPURA - Seorang pembantu yang bertanggung jawab merawat seorang wanita tua yang terbaring di tempat tidur telah melakukan penganiayaan selama sekitar tujuh bulan. Dia kerap memukul wajahnya dengan jam weker, menjambak rambutnya dan menampar mulutnya.

Saat ditangkap, dia mengaku melampiaskan kemarahannya pada korban karena stres dan frustrasi karena putri korban memarahinya.

Warga negara Myanmar Aye Aye Naing, 39, dijatuhi hukuman penjara 30 minggu pada Senin (/12).

Dia mengaku bersalah atas tiga tuduhan secara sukarela menyebabkan luka pada orang yang rentan, dengan tuduhan lain dipertimbangkan.

Pengadilan mendengar bahwa Aye Aye Naing disewa oleh putri korban, seorang wanita berusia 52 tahun, dan tinggal bersama keluarganya di sebuah flat di Yishun.

Baca juga: Kejam, Pengasuh Panti Jompo Ini Jambak Rambut hingga Pukul Wajah Lansia

Korban, seorang wanita berusia 76 tahun, menderita masalah tulang belakang dan radang sendi dan tidak dapat melindungi dirinya dari kekersan yang dilakukan pembantunya.

Pada 31 Juli tahun lalu, Aye Aye Naing berjalan ke tempat korban yang berbaring di tempat tidur dan menggunakan bantal untuk memukul wajahnya.

Baca juga:  Iklan Pencarian Asisten Rumah Tangga Harus Sarjana dan Kuasai Bahasa Asing Tuai Cibiran

Korban perlahan-lahan menggerakkan tangannya ke mulutnya untuk melindungi dirinya sendiri, tetapi Aye Aye Naing menekan hidung korban dan menusuk wajahnya berulang kali. Dia juga menepis tangan korban setelah dia berusaha melindungi wajahnya.

Pada 14 Agustus 2020, Aye Aye Naing memasang jam weker di kamar korban sebelum menggoyangkannya ke wajah korban dan menggunakannya untuk memukul mulut korban.

Empat hari kemudian, dia mendorong korban ke kamarnya dan mendorongnya dari posisi duduk ke posisi berbaring. Setelah mengatur bantal di bawah lutut korban dan meletakkan sapu tangan di bajunya, Aye Aye Naing menusuk mulut korban sebelum menekan bibirnya dengan kasar.

Kemudian pada pagi yang sama, dia menarik rambut korban dan mendorong bagian belakang kepalanya sambil membawanya ke posisi duduk.

Dia juga menekan dasar botol air tiga kali di mulut korban hingga korban kesakitan. Korban mengatakan kepada putrinya bahwa pembantu telah memukulinya. Putrinya pun memanggil Aye Aye Naing, yang mengatakan jika ibunya jatuh dari tempat tidur.

Putri korban pun akhirnya memasang kamera CCTV yang merekam kekerasan itu.

Anak perempuan korban membuat laporan polisi pada 21 Agustus 2020. Ia membawa korban ke rumah sakit keesokan harinya, dengan luka memar di dahi, pipi, paha, dan dada bagian atas.

Aye Aye Naing mengatakan dia tidak memiliki masalah dengan majikannya, yang memberinya makanan yang cukup dan tempat yang layak untuk tidur. Menurut pengadilan, korban juga memperlakukannya dengan sangat baik dan baik padanya,

Namun pembantu itu mengaku stres dan frustrasi karena putri korban memarahinya karena tidak melakukan sesuatu dengan cara yang benar. Dia kemudian melampiaskan kemarahannya pada korban dengan memperlakukannya secara kasar dan menyakitinya.

Dia mengaku telah merawat korban secara kasar selama sekitar enam sampai tujuh bulan. Dia kerap menarik rambutnya dengan kasar untuk membuatnya duduk dan menampar mulutnya. Dia juga menarik lehernya dari kursi rodanya ke tempat tidur.

Selama penyelidikan, korban mengatakan dia senang telah dibantu oleh Aye Aye Naing, dan senang memilikinya.

Psikiatee yang ikut dalam proses penyelidikan mengatakan Aye Aye Naing memiliki gangguan penyesuaian sekunder untuk kasus pengadilan yang sedang berlangsung.

Jaksa menuntut delapan sampai 12 bulan penjara, mencatat periode pelecehan. Sementara itu, pengacara pembela mengatakan pembantu tersebut memiliki hubungan baik dengan korban, yang merupakan sosok nenek baginya.

Pengacara mengatakan Aye Aye Naing memiliki banyak tugas di rumah itu, termasuk mengurus korban hingga tugas-tugas lain dalam rumah tangga bersama dengan enam pembantu lainnya. Dia mengaku menyesal akibat kekerasan yang dilakukan.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini