Share

Bantu Program Nuklir Pakistan, Perusahaan Swiss dan Jerman Jadi Sasaran Teror Bom Mossad

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 04 Januari 2022 18:39 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 04 18 2527406 bantu-program-nuklir-pakistan-perusahaan-swiss-dan-jerman-jadi-sasaran-teror-bom-mossad-XIMHc3Wuou.jpg Foto: Creative Commons.

LONDON – Laporan surat kabar Swiss mengklaim bahwa dinas intelijen Israel, Mossad, berada di balik serangkaian pengeboman di Jerman dan Swiss pada 1980-an. Pengeboman itu juga diklaim memiliki hubungan dengan pengembangan program senjata nuklir Pakistan.

Surat kabar Swiss Neue Zürcher Zeitung (NZZ) edisi Sabtu mengklaim bahwa “dokumen yang sebelumnya tidak diketahui dari arsip di Bern dan Washington” mengungkap fakta baru dari rangkaian pengeboman yang telah lama dihubungkan dengan Mossad itu.

tersebut memiliki hubungan dengan Mossad dan Pakistan. 

BACA JUGA: Eks Pimpinan Mossad Bocorkan Rahasia Negara pada Pramugari Selingkuhannya

Diwartakan Sputnik, korban pertama pengeboman itu adalah Eduard German, direktur pelaksana CORA Engineering, yang rumahnya di Berne dibom pada 20 Februari 1981, meskipun ia selamat dari ledakan tersebut. CORA telah memasok Pakistan dengan unit gasifikasi dan solidifikasi dua tahun sebelumnya, dan bersiap untuk mengekspor unit lain.

Sasaran kedua adalah kantor Wälischmiller Engineering di Markdorf, tempat sebuah bom meledak pada 18 Mei 1981.

BACA JUGA: Iran Salahkan Israel atas "Terorisme Nuklir" di Fasilitas Natanz, Bersumpah Balas Dendam

Pengeboman ketiga menargetkan Heinz Mebus, seorang insinyur Jerman Barat yang telah membantu Pakistan membangun pabrik konversi fluorida dan uranium pertamanya pada 1979. Sebuah bom surat meledak di rumahnya pada 18 November 1981, menewaskan anjingnya.

Menurut laporan NZZ, Mebus juga telah bergabung dengan ilmuwan nuklir terkemuka Pakistan, Abdul Qadeer Khan, pada pertemuan di Zurich dan Dubai dengan Masud Naraghi, yang saat itu menjadi kepala Organisasi Energi Atom Iran.

Polisi Swiss dan Jerman Barat tidak pernah dapat melacak pelakunya, dengan serangan yang diklaim oleh kelompok tidak dikenal yang disebut “Grup untuk Non-Proliferasi di Asia Selatan,” “Komite untuk Menjaga Revolusi Islam” dan “Liga untuk Melindungi Sub-Benua,” yang tidak pernah terdengar atau tercatat sebelum atau sesudah insiden pengeboman tersebut.

Banyak di antara korban yang menerima telepon intimidasi setelah pengeboman. Beberapa perusahaan lain juga mendapat intimidasi serupa, termasuk Siegfried Schertler, pendiri produsen katup vakum Vakuum-Apparate-Technik (PPN).

Menurut file Polisi Federal Swiss yang dilihat oleh NZZ, Schertler mengatakan seorang tokoh bernama David dari kedutaan Israel di Bonn telah meneleponnya dan mendesaknya untuk menghentikan “bisnis dengan senjata nuklir ini” dan beralih ke bisnis tekstil sebagai gantinya.

Meskipun demikian, NZZ berhati-hati untuk mencatat, mengikuti sejarawan sebelumnya, bahwa tidak ada “bukti kuat” yang pernah secara langsung menghubungkan Mossad dengan pemboman 1981.

Kampanye terorisme ini pada akhirnya gagal mencapai tujuannya, karena banyak perusahaan segera menerima kesepakatan baru yang menguntungkan dari pemerintah Presiden Pakistan Muhammad Zia-ul-Haq, demikian dilaporkan NZZ.

Pakistan akhirnya meledakkan lima senjata nuklir di bawah tanah pada 28 Mei 1998, menjadi kekuatan nuklir kedelapan di dunia dan ketiga di luar Dewan Keamanan PBB. Negara Asia Selatan itu bergabung dengan saingan regionalnya, India, yang meledakkan bom nuklir pada 1976.

Sementara Mossad tidak secara langsung terkait dengan pemboman 1981, sebuah memoar berjudul "The Quiet Sabra," diterbitkan pada Januari 2021 oleh Michael "Micky" Ron, mantan insinyur di reaktor nuklir Dimona Israel, mengungkapkan keterlibatannya dalam operasi serupa lainnya.

Pada malam 6 April 1979, lima bom meledak di pabrik perusahaan CMIM di La Seyne-sur-Mer, Toulon, Prancis, tempat beberapa inti reaktor untuk reaktor Osirak Irak dibangun.

Menurut Ron, bahan peledak gagal menghancurkan reaktor tersebut secara total karena Mossad tidak mengikuti saran yang diberikan oleh Komisi Energi Atom Israel. Dia mengatakan bahwa komisi tersebut sangat familiar dengan peralatan yang ditargetkan karena Osirak adalah salinan dari reaktor EL-3 di Saclay, Prancis.

Akibatnya, Angkatan Udara Israel terpaksa melakukan serangan udara di pabrik Osirak itu sendiri di selatan Baghdad pada 7 Juni 1981.

The Jewish Chronicle bulan lalu mengungkapkan bahwa Mossad juga berada di balik serangkaian ledakan dan operasi sabotase di fasilitas nuklir Iran di Natanz dan Karaj dalam beberapa tahun terakhir.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini