Share

Serangan Rudal Balistik Hantam Donetsk, 17 Warga Sipil Meninggal dan 20 Terluka

Susi Susanti, Okezone · Selasa 15 Maret 2022 12:28 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 15 18 2561836 serangan-rudal-balistik-hantam-donetsk-17-warga-sipil-meninggal-dan-20-terluka-T5UqqxvRRr.jpg Rudal balistik hantam Donetsk (Foto: DPR Territorial Defense/Telegram)

DONETSK – Para pejabat mengatakan sebuah rudal balistik Tochka-U diluncurkan ke Donetsk, ibu kota Republik Rakyat Donetsk (DPR), pada Senin (14/3). Insiden itu dilaporkan terjadi di tengah kampanye militer Rusia di Ukraina.

Juru bicara militer DPR Eduard Basurin mengatakan rudal itu dicegat dan dihancurkan di udara, tetapi salah satu bagian peledaknya berhasil mengenai kota. Pejabat pertahanan DPR melaporkan bahwa sedikitnya 17 orang tewas dan 28 luka-luka.

“Jika rudal itu tidak ditembak jatuh, kami akan memiliki lebih banyak korban,” kata Pimpinan DPR Denis Pushilin kepada media. Dia menambahkan bahwa bagian dari rudal itu jatuh di pusat Donetsk, tidak jauh dari gedung utama pemerintah.

Baca juga: China Terbuka Akan Berikan Bantuan Makanan hingga Militer ke Rusia, AS Peringatkan Konsekuensi

Pushilin mengklaim rudal itu diisi dengan bom tandan. "Tidak diragukan lagi, ini adalah serangan terhadap penduduk sipil,” terang juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menjawab menanggapi pertanyaan wartawan apakah Moskow memandang insiden itu sebagai tindakan terorisme.

Baca juga: Milisi LPR Klaim Tembak Jatuh 2 Pesawat SU-24 Ukraina di Luhansk 

Sementara itu, Pavlo Kyrylenko, seorang pejabat regional Ukraina, menuduh Rusia menembaki kota Avdeevka, utara Donetsk, dengan rudal Tochka-U dan proyektil lainnya pada Senin (14/3). Dia mengatakan bahwa rumah, sekolah, dan pabrik kimia terkena serangan itu.

RT tidak dapat memverifikasi klaim ini secara independen.

Menurut Zvezda, saluran TV resmi Kementerian Pertahanan Rusia, militer negara itu mengganti rudal balistik Tochka-U dengan sistem Iskander pada 2019.

Avdeevka terletak di dalam perbatasan DPR, tetapi telah dikendalikan oleh pasukan Ukraina sejak 2014, ketika republik itu memisahkan diri dari negara itu setelah kudeta di Kiev.

Moskow menyerang Ukraina pada akhir Februari lalu, menyusul kebuntuan tujuh tahun atas kegagalan Ukraina untuk menerapkan ketentuan perjanjian Minsk, dan akhirnya pengakuan Rusia terhadap DPR dan Republik Rakyat Lugansk yang bertetangga. Protokol yang ditengahi Jerman dan Prancis dirancang untuk mengatur status wilayah di dalam negara Ukraina.

Rusia kini menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan NATO.

Kiev mengatakan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim bahwa pihaknya berencana untuk merebut kembali kedua republik dengan paksa.

Beberapa putaran pembicaraan damai telah diadakan, tetapi para pihak sejauh ini hanya berhasil menyepakati rute evakuasi dari kota-kota yang terkepung.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini