Setelah kejadian pengeroyokan tersebut, Rachmat berharap mahasiswa menyampaikan aspirasi dengan ilmu. Demonstrasi merupakan hak, tetapi, dalam era demokrasi modern ini, akan lebih baik jika menjadikan demonstrasi sebagai alternatif terakhir.
“Menurut saya mahasiswa lebih baik menggelar semacam simposium antar mahasiswa. Para pimpinan BEM bisa berkumpul untuk mengevaluasi situasi bangsa. Outputnya bisa berupa pernyataan sikap yang bisa disebarkan ke media massa, DPR maupun pemerintah,” usulnya.
“Apakah ini sudah dilakukan, jika sudah dilakukan, apakah tidak ada respon dari pemerintah atau DPR. Jika tidak ada maka bisa disebut muncul ketersumbatan channel komunikasi politik. Jika tersumbat maka demonstrasi menjadi pilihan akhir,” sambungnya.
Pria yang juga dosen di Ilmu Komunikasi UB ini mengingatkan, dalam perspektif komunikasi massa bahwa kerumunan atau crow dikenal konsep Contagion Mentale.
“Dalam kerumunan, individu mudah kehilangan kesadaran personalnya dan mudah mengikuti perilaku massa. Di sinilah peran seorang provokator. Jadi mahasiswa saat melakukan demonstrasi harus waspada terhadap provokator karena sangat rentan disusupi,” pungkasnya.
(Angkasa Yudhistira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.