Bahkan, munculnya sosok pria yang identik tidak mengenakan baju ini menjadi bak pahlawan, ketika berburu Harimau di areal kebun masyarakat. Hal itu membuat pemilik kebun menjadi aman saat beraktivitas.
"Berburu Harimau juga karena permintaan dari orang desa. Kalau Harimau tidak ada di ladang, orang kan jadi aman. Nyadap karet aman. Masyarakat desa senang, jika saya berburu," ulas pria kelahiran 1949 ini.
Ikut Kakak dan Belajar Otodidak
Sosok pria yang identik tidak mengenakan alas kaki atau pelindung kaki ini, berburu Harimau diketahuinya dari kakaknya. Abadi Utama, namanya. Badi, begitulah sapaan Mawi kepada kakaknya itu.
Dari sosok Badi, pria dengan tinggi tidak kurang dari 170 cm ini ikut berburu Harimau. Dari situ, Mawi mulai belajar. Peralatan yang dibutuhkan hingga tata cara pemasangan perangkap jerat dan lainnya.
Baca juga: Video Detik-Detik Warga Aceh Diterkam Harimau Sumatera saat Panen di Kebunnya
Namun, Mawi tidak sepenuhnya diajarkan, Badi asal Kecamatan Rawas Ulu, Kabupaten Musi Rawas Utara, Provinsi Sumatera Selatan. Pria 73 tahun ini belajar secara otodidak.
"Awal berburu. Kakak saya Badi itu setengah mengajar, setengah tidak. Saya belajar sendiri," ingat sang Datuk.
Di masa itu. Mereka berdua dijemput warga Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, untuk mengamankan masyarakat dari ancaman Harimau Sumatera. Bagi masyarakat di daerah tersebut mereka menjadi pahlawan.
Sebab mereka telah memberikan rasa aman dari gangguan Harimau. Berangkat dari itu sosok kakak Mawi, Badi menjadi orang pertama membuka akses di Desa Sebelat Ulu, Kecamatan Pinang Belapis, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.