Ketika Harimau terkepung, kepala, badan, kaki Harimau langsung dipukul dengan sepotong kayu hingga mati. Lalu, Harimau tersebut langsung dikuliti.
Kemudian direndam dengan air spritus. Cara berburu ala sang 'jagal' Harimau ini bertahan hingga 10 tahun.
"Ke mana dia (Harimau) lari kita pasti tahu. Ke mana dia lari, kita cari jalan pintas untuk mengejar Harimau. Kalau orang belum pernah lihat, mungkin cerita saya ini dongeng. Tapi, kalau orang pernah lihat baru dia percaya," cerita Mawi, meyakinkan.
Memasuki tahun 1980-an, Mawi mulai mengenal senjata api (senpi) rakitan laras panjang atau dikenal kecepek. Pelurunya dari bekas kepala Aki dibuat sebesar buah cengkeh.
Baca juga: Dengar Auman Harimau, Warga Rokan Hulu Ketakutan Langsung Mengungsi
Namun Penggunaan senpi rakitan tersebut tidak bertahan lama. Sebab hasil buruan Harimau tidak memiliki nilai jual. Kulit Harimau berlobang. Alhasil Mawi memutuskan tidak menggunakan lagi senpi.
"Kalau banyak lobang di kulit Harimau maka harganya murah," kilas bapak dengan tujuh orang anak ini.
Di tahun 1980-an itu juga, sosok Mawi mulai mengenal jerat dari kawat sling baja. Hasil dari pemikirannya. Mulanya, Dia uji coba terlebih dahulu apakah kawat sling bagus digunakan atau tidak.
Dari situ, pia bertubuh tegap itu mulai menggunakan jerat dari kawat sling baja cukup lama. Tidak kurang dari 38 tahun. Meski begitu, senpi rakitan laras panjang tersebut tetap digunakan untuk menembak hewan buruan lainnya mulai dari Rusa, Kijang, dan Tapir.
"Jerat dari kawat sling baja itu dipasang di tempat tertentu. Setelah dipasang, saya menunggu cukup jauh sekira 400 meter dari jerat. Ini untuk mengelabui beliau (Harimau)," kenang Mawi.