Share

'Wabah Tari', Kisah Orang-Orang yang Menari Selama Berhari-hari Tanpa Henti hingga Meninggal

Kamis 30 Juni 2022 03:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 29 18 2620363 wabah-tari-kisah-orang-orang-yang-menari-selama-berhari-hari-tanpa-henti-hingga-meninggal-kiWmFW6AQw.jpg Wabah menari terjadi di Prancis ketika orang menari tanpa henti hingga meninggal (Foto: Alamy)

PRANCIS - Pada 1518, 'wabah tari' menimpa warga kota Strasbourg, Prancis, yang dilaporkan menari tak terkendali selama berhari-hari - dan berujung fatal. Ini adalah suatu peristiwa ganjil yang lantas memukau para seniman dan penulis.

Seperti semua kisah wabah, yang satu ini diawali aneka pertanda. Sebuah bintang melesat melintasi langit. Sawah kebanjiran. Udara dingin ekstrem diikuti udara panas ekstrem, yang kemudian, secara tak terhindarkan, diikuti persoalan kelaparan akut.

Dikutip BBC, suatu hari di musim panas yang terik di bulan Juli 1518, seorang perempuan bernama Frau Troffea melangkah ke alun-alun yang ada di Strasbourg dan mulai menari.

Awalnya, orang-orang di sekitarnya hanya menonton. Namun rasa ingin tahu mulai terusik oleh tampilan publik yang tak biasa ini. Mereka menyaksikan seorang perempuan tidak mau dan tidak bisa berhenti menari.

Baca juga: Biarawati Ini Menari dengan Tengkorak Manusia dan Anjing di Samping Kuburan 

Dia menari selama hampir sepekan, terkadang terjerembab lantaran kelelahan, namun tidak gentar oleh peringatan yang disodorkan oleh tubuh, seperti: sakit, lapar, malu.

Baca juga: Di Negara Ini, Menari Jadi Terapi Bagi Korban Pemerkosaan

Tidak ada musik yang mengiringinya. Detak jantungnya menjaga tempo, bekerja amat keras untuk terus bergerak.

Pada saat ia dibawa pergi, semuanya sudah terlambat. Orang-orang sudah bergabung. Pada Agustus, jumlahnya sudah mencapai ratusan.

Seperti sang perempuan itu tadi, mereka tak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada diri mereka sendiri. Mereka menari seolah dipaksa, dengan kaki berlumuran darah, dan tungkai berkedut.

Baca Juga: Salurkan BLT BBM kepada 20,65 Juta KPM, Ini Strategi Pos Indonesia

Sebuah puisi yang dikutip dari sebuah kronik kontemporer menggambarkan "perempuan dan laki-laki yang menari dan melompat…/ Di pasar, di gang-gang, dan jalanan,/ Siang dan malam" hingga "penyakit" itu akhirnya berhenti.

Selanjutnya, kronik tersebut menguraikan langkah-langkah yang diambil oleh pihak berwenang sebagai tanggapan.

Seorang penulis menggambarkan para penari yang dibawa ke kuil St Vitus di luar kota, di mana mereka "diberikan salib kecil dan sepatu merah".

Disebut oleh yang lain bahwa ada upaya langsung membuat lelah para penari supaya mereka tunduk, dengan "orang-orang… yang secara khusus ditunjuk dan dibayar untuk berdansa, diiringi musik drum dan pipa".

Tapi hal ini tidak membantu. "Semua tidak berguna, dan banyak yang menari sampai mati,” ujar penulis.

Dalam 400 tahun atau lebih sejak peristiwa aneh ini - "wabah tarian" Strasbourg - terjadi, banyak teori yang sudah diajukan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Peristiwa tersebut mencengkram imajinasi kita sampai hari ini, mengundang untuk diceritakan ulang, dan menginspirasi para seniman dan pekerja kreatif untuk menginterpretasikan peristiwa ganjil ini ke versi masing-masing.

Tidak lama berselang, dua karya besar yang mengangkat tema seputar wabah tari sedang dirilis, yakni: album Dance Fever karya bintang pop Florence + The Machine, dan The Dance Tree karya penulis terlaris Kiran Millwood Hargrave.

Keduanya menggunakan ide choreomania (sebagaimana fenomena tersebut kemudian dijuluki) untuk menciptakan karya mendalam, merenungkan tentang kekangan dan kegairahan.

Walau menjadi contoh paling terkenal untuk saat ini, Strasbourg bukanlah satu-satunya "wabah tari" yang melanda Eropa selama abad pertengahan dan awal era modern.

Banyak contoh tarian lainnya dianggap tak terkendali atau mengancam yang tercatat di Jerman, Prancis, dan wilayah lain dari Kekaisaran Romawi.

Pada abad-abad sebelumnya, peristiwa seperti ini ditafsirkan sebagai hukuman ilahi atau sebuah peristiwa kerasukan iblis, yang kemudian diatasi dengan solusi keagamaan seperti prosesi, misa, atau intervensi langsung dari para pendeta.

Dua dekade sebelum musim panas 1518, seorang tokoh agama di Strasbourg bernama Sebastian Brant menulis dalam alegori satirnya The Ship of Fools "bahwa tarian dan dosa merupakan satu kesatuan," menyalahkan Setan atas semua "tarian memusingkan yang ditarikan dengan riang".

Beberapa tahun setelah insiden di Strasbourg, seorang tabib bernama Paracelsus memulai serangkaian risalah tentang choreomania, termasuk The Diseases That Deprive Man of His Reason, seperti Tarian St. Vitus, Falling Sickness, Melankolia, Ketidakwarasan, dan Cara Perawatan yang Benar.

Paracelsus, yang tersohor karena karya perintisnya di bidang kimia dalam kedokteran, berpendapat bahwa fenomena ini mungkin lebih bersifat duniawi ketimbang ilahi.

Ia menyarankan bahwa "laughing veins" seseorang dapat memicu "rasa geli" yang naik dari anggota badan ke kepala mereka, mengaburkan penilaian dan memicu gerakan ekstrem sampai dia tenang.

Ini bukan untuk menghilangkan dosa sama sekali.

Mereka yang paling sering bersinggungan dengan tarian, tulis Paracelsus, termasuk "pelacur dan bajingan yang menikmati permainan gitar dan kecapi… memuaskan semua gairah, kesenangan tubuh, imajinasi, dan kemewahan."

Elaborasinya tentang kemungkinan penyebab tidak terlalu kuno.

Dia berpendapat bahwa "imajinasi" adalah penyebab yang masuk akal daripada Tuhan atau iblis.

Imajinasi, kata Paracelsus, "tidak hanya terbang keluar dari satu rumah ke rumah lain… tetapi juga paling cepat berpindah dari satu Kota dan Negara ke yang lain, sehingga dengan imajinasi satu orang, Wabah dapat datang ke seluruh Kota atau Negara."

Interpretasi ini lebih sejalan dengan teori-teori yang ada saat ini tentang penyakit psikogenik massal (psychogenic illness), disebabkan oleh keadaan politik dan sosial yang panas.

Untuk sementara, terdapat spekulasi tentang apakah ergot - jamur yang ditemukan pada batang gandum hitam dapat menyebabkan halusinasi dan kejang yang kuat - mungkin turut bertanggungjawab menjadi penyebab, namun hal ini sebagian besar telah diabaikan.

John Waller, seorang penulis buku non-fiksi yang populer tentang topik ini, A Time to Dance, A Time to Die: The Extraordinary Story of the Dancing Plague of 1518, malah mencirikan choreomania sebagai "epidemi psikis" yang serupa dengan lainnya di seluruh dunia yang melibatkan tanggapan tubuh tanpa sadar lainnya seperti tertawa atau pingsan.

Akhirnya, cerita ganjil di musim panas itu hanyalah cerita.

Beberapa bentuk tarian massal didokumentasikan dalam setidaknya enam kronik kontemporer yang berbeda, gerakan para penari dilaporkan terus berlanjut selama berminggu-minggu.

Frau Troffea disebut-sebut sebagai penggagas beberapa di antaranya.

Di luar itu, detailnya berbeda. Mulai diberikan beberapa tanggal. Metode yang berbeda untuk menangani fenomena tersebut ditekankan. Seperti banyak peristiwa sejarah lainnya, potret diambil dari fragmen.

Terlepas dari fakta sesungguhnya, kisah tersebut terus mencengkeram imajinasi kita: seseorang yang memicu gerakan massa; sebuah tarian yang begitu menawan, begitu menarik perhatian, hingga melampaui keinginan individu dan keterbatasan fisik, terkadang dengan konsekuensi mematikan.

Peristiwa seperti ini menjerat kita untuk terus menulis tentangnya sampai hari ini, prosa kita yang penuh dengan detail tentang sihir tentang kerusakan yang terjadi pada jari-jari kaki letih atau detak jantung ala Frau Troffea.

Tarian yang tidak terkendali memiliki efek menyihir bagi mereka yang berkontemplasi tentangnya.

Langsung terpikir dongeng populer karya Hans Christian Andersen, The Red Shoes, dengan sandal kulit merah terkutuk yang menyumpahi pemiliknya untuk menari sampai dia tersiksa hingga akhirnya dia meminta algojo memotong kakinya sendiri.

Kisah ini sangat mengerikan, namun orang-orang menyukainya.

Kendati implikasi moralnya relatif langsung kepada sasaran (sebuah hukuman bagi kesombongan: sang pemakai sepatu melewati cobaan ini karena dia mendambakan alas kaki yang indah), saran yang lebih gelap tentang kepemilikan dan gerakan yang tak ada hentinya telah menjadi inspirasi bagi karya banyak orang, termasuk film a Powell dan Pressburger, sebuah album Kate Bush, dan beberapa pertunjukan balet.

Musim panas ini, wabah tarian itu seperti benar-benar kembali.

Album kelima Florence + The Machine, Dance Fever yang sudah dirilis, mengambil inti dari dorongan choreomania yang tak dapat dihentikan.

Catatan rilis yang menyertainya menguraikan minat vokalis Florence Welch pada titik pertemuan yang mudah berubah antara gerakan energik dan kepanikan moral ini, serta menyentuh resonansi subyek yang jelas pada album yang direkam selama pandemi Covid-19, ketika "pusaran gerakan dan kebersamaan" keduanya dirindukan dan diantisipasi.

Wabah tari adalah tema yang tepat bagi seseorang yang ingin menjelajahi ketidakpastian dan perubahan.

Kalimat pembuka dari lagu Choreomania - yang ditulis sebelum pandemi - sangat luar biasa:

"And I'm freaking out in the middle of the street / With the complete conviction of someone who has never actually had anything really bad happen to them."

Ini juga cocok untuk penyanyi yang secara konsisten disibukkan oleh tubuh sebagai alat ekspresi.

Video musik untuk single album King and Heaven is Here menampilkan kelompok penari yang sama menggeliat di sekitar Welch, gerakan mereka tanpa hambatan saat mereka menghentakkan kaki dan menggerakan rok mereka.

Sementara itu novel terbaru dari penulis Kiran Millwood Hargave, The Dance Tree, secara khusus melihat peristiwa yang diduga dari insiden Strasbourg tahun 1518 melalui kehidupan para perempuan yang hanyut di dalamnya.

Dalam versi Millwood Hargrave, wabah menari menjadi penderitaan khusus perempuan: dimulai dengan Frau Troffea, bergerak "seolah-olah dia diseret di antara dua tali iblis yang diikatkan pada anggota tubuhnya", dan membangun kehancuran luar biasa dari "tubuh berdenyut" yang mengganggu segala sesuatu di sekitarnya.

Ditulis dengan pola orang ketiga, cerita ini sebagian besar dilihat melalui mata Lisbet, seorang peternak lebah yang tengah hamil yang kehilangan dan berusaha mengungkap misteri keluarga yang telah dinikahinya.

Dia adalah penonton, bukan peserta. Tapi saat tarian mengubah sifat kota, hal itu juga mengubahnya. Wahyu terungkap. Keinginan memuncak.

Benang narasi ini dirangkai dengan potret singkat para perempuan yang ikut menari: perempuan yang kehilangan ayah, anak, atau pikirannya; para perempuan yang memahami gairah, yang mengalami penolakan; kaum perempuan yang tetap menjadi penonton sampai mereka tidak bisa menolak janji kebebasan yang ditemukan di tengah kerumunan.

Barangkali tak bisa dielakkan bahwa wabah menari kembali populer saat ini.

Dua tahun terakhir telah menghasilkan minat luar biasa atas banyak kasus pandemi yang terjadi sebelum kita, mulai dari Wabah Hitam (Black Death) hingga Flu Spanyol.

Kita melihat mereka tak hanya untuk perbandingan, tetapi juga, agaknya, untuk meyakinkan diri kita sendiri bahwa semua epidemi pada akhirnya akan berakhir.

Di dalamnya, sesuatu yang diklasifikasikan sebagai wabah di mana penularannya bukanlah sesuatu yang menyakitkan, tetapi pergerakannya akan selalu memikat.

Seperti yang diakui Welch, salah satu hal yang hilang selama lockdown adalah aspek komunalitas dari menari: perasaan indah karena secara fisik dekat dengan ratusan orang lain, semua orang terbawa oleh musik yang menggerakkan otot dan mengubah lautan orang asing menjadi sesama pelancong yang terikat oleh rasa memiliki atas kebersamaan.

Ini adalah sebuah keasyikan yang menular.

Pada Juli 2020, Jonathan Glazer memulai debut film berdurasi 10 menit berjudul Strasbourg 1518 (BBC Films/ Artangel) yang menampilkan pertunjukan solo tarian hingga mereka tewas.

Tahun ini, dengan aktivitas teater kembali berjalan lancar, pementasan teater termasuk The Maladies di Gedung Theatre Almeida di London, Dance to the Bone di Sherman Theatre di Cardiff, dan The Dancing Public karya Mette Ingvartsen (saat ini sedang tur di seluruh Eropa) semuanya menyinggung peristiwa di Strasbourg, menggunakannya untuk membingkai perenungan ihwal penindasan, pemutusan hubungan, dan gerakan massa.

Daya tarik sensorik dari fenomena ini tidak sepenuhnya spesifik terkait virus corona. Ini juga menyuarakan tentang keprihatinan kontemporer lainnya.

"Saya pikir semakin hidup kita ditekan, dan digolongkan, dan diatur oleh waktu... semakin kita memiliki kebutuhan untuk berproduksi dan menjadi efisien, dan semakin banyak ruang publik kita dibatasi dan diawasi ... semakin banyak fantasi, mimpi, dorongan. untuk melepaskan [tumbuh] kuat," kata Kélina Gotman, penulis Choreomania: Dance and Disorder.

Buku Gotman, yang sebagian besar berkaitan dengan patologisasi choreomania, kurang tertarik pada asal usul setiap tarian daripada bagaimana momen-momen ini ditulis, ditafsirkan, dan digunakan untuk membenarkan ideologi yang berbeda.

Melepaskan diri adalah ide utama dari Dance Fever dan The Dance Tree.

"Ada sesuatu yang membumbung tinggi, penuh harapan: sebuah pengabaian," tulis Millwood Hargrave di tengah kerumunan yang terus bertambah.

Wabah tarian seperti yang ada dalam bukunya adalah situasi kekacauan, tetapi juga tempat perlindungan.

"Saya ingin melihat perasaan hanyut dalam sesuatu yang begitu luar biasa, dan transenden, dan ganjil," katanya kepada saya.

"Pada akhirnya, ini adalah rasa kebahagiaan kolektif yang lengkap."

Ide tari sebagai ruang kegembiraan menemukan keselarasan dalam Dance Fever.

"But I hear the music, I feel the beat/ And for a moment, when I'm dancing, I am free," Welch bernyanyi dalam Free, suaranya sebentar menunjukkan nada kerentanan sebelum menggelegar sekali lagi.

Transendensi dalam semua samarannya adalah tema yang acap muncul dalam lirik Welch, apakah dia mengeksplorasi upaya kaum muda untuk melarikan diri (melalui minum minuman keras, minum obat, menolak makanan) atau bermeditasi pada kepenuhan cinta yang luar biasa.

Seringkali, dia juga mencapai nada kegairahan, lagu-lagunya tidak hanya berbicara tentang pengabaian tetapi juga mendorongnya dalam ritme mantera dan crescendo yang membengkak.

"I am free," dia bernyanyi lagi dan lagi, sampai kami merasakannya juga.

Kebebasan bukanlah sebuah keadaan yang harus diterima begitu saja.

Dalam ‘The Dance Tree’, ada poin eksplisit yang harus dibuat tentang otonomi kaum perempuan - "kemarahan perempuan dan keinginan perempuan" adalah bagaimana Millwood Hargrave mencirikan keasyikan utama novel ini - dan kekuatan yang ditemukan dalam menjadi obyek ketakutan.

Menari tidak selalu indah. Itu bisa jelek, menakutkan, berkeringat, penuh dengan anggota badan yang menyentak dan ekspresi meringis.

Ini adalah cara yang sangat harfiah untuk menegaskan otonomi. Dia mengatakan Anda tidak bisa menghentikan dirinya untuk bergerak.

Dalam lingkungan religius yang amat kaku di novel ‘The Dance Tree’, menari juga upaya menentang arus. Aktivitas ini, sebagaimana Paracelsus mengingatkan kita, kelihatan terlalu menyenangkan sehingga mencurigakan.

"Tarian punya peran besar dalam begitu banyak budaya selain budaya kita sendiri, terutama budaya India," terang Millwood Hargrave.

"Iman dan gerakan adalah pasangan yang amat serasi, karena ekspresi pemujaan yang paling murni ada pada tubuh,” lanjutnya.

Namun, dalam institusi agama yang menuntut kesalehan dalam diam, gestur seperti itu menjadi berbahaya.

"Ini sangat menarik bagi saya bahwa para perempuan ini tidak akan pernah didorong untuk bergerak,” ungkapnya.

"Dalam banyak hal, gereja begitu teatrikal saat waktu peribadatan: bangunan-bangunan indah, aroma, dupa, lilin lebah, pakaian, semuanya begitu camp dan begitu teater. Tapi begitu Anda berada di sana, Anda diam dan hening. Ini juga teater, tetapi tanpa gairah, tanpa koneksi tubuh antara orang-orang,” ujarnya.

Peristiwa gangguan massa selalu memikat para seniman. Selalu ada yang menarik saat suatu tatanan sosial rusak, kebiasaan lama digantikan oleh fenomena yang jauh lebih aneh dan tidak dapat dijelaskan. Dalam kasus choremania, yang muncul bukan hanya rasa terpesona atau penghancuran diri (tema seni populer lainnya), tetapi juga protes fisik.

Saat ini, gagasan wabah tarian tidak hanya dianggap sebagai keanehan, tetapi juga sesuatu yang lebih membebaskan. Seseram apapun gagasan tentang orang-orang yang tidak bisa berhenti menari, ia juga punya daya tarik tersendiri.

Apa yang terjadi jika kita membiarkan diri kita sepenuhnya terbawa arus? Akan seperti apa jadinya perasaan itu, jika ia direplikasi dalam tubuh ratusan orang lain yang bergerak di sekitar kita?

Ini tidak selalu terjadi. Seperti yang dieksplorasi Gotman dalam bukunya, pada waktu-waktu tertentu peristiwa wabah menari - bagaimanapun itu - adalah sesuatu yang harus dipahami dengan hati-hati.

Dalam penelitiannya tentang pendekatan abad ke-19 terhadap choreomania, ia menemukan sikap kehati-hatian yang terbungkus dalam pemikiran kolonial dan ketakutan akan yang Liyan.

"Ada artikulasi nyata dari versi modernitas, sebagai kontras dengan apa yang dipahami sebagai lebih feminin, lebih hewani, lebih liar, dan liar," terangnya tentang tulisan medis dan sejarah yang dia temukan di era Victoria.

"Ada wacana rasis dan sangat berbasis gender yang mulai terbentuk,” lanjutnya.

Pada saat itu, ketika mengontekstualisasikan contoh-contoh baru dari choreomania, periode abad pertengahan adalah kerangka yang nyaman untuk memahaminya.

"Abad pertengahan ... dibandingkan dengan Afrika, sebagian besar sebagai [periode] terbelakang, non-Eropa, pra-modern ini," jelasnya.

Konsep "mania tari" adalah alat politik yang berguna, memungkinkan perbandingan silang dengan - dan penolakan - protes dan praktik yang melibatkan elemen gerakan fisik apa pun.

Gotman memberi contoh penguasa boneka Raja Radama II, yang mengambil alih Madagaskar pada 1861. Ketika rakyatnya menunjukkan ketidaksenangan mereka, "menggunakan hak mereka untuk memprotes kerajaan-kerajaan ini [yang] menjual tanah mereka kepada orang Eropa,", misionaris kolonial dengan gampang menganggap tindakan ini sebagai contoh choreomania, mereduksi protes politik menjadi sekadar kegilaan massa.

Sekarang mood yang ada telah bergeser. Justru femininitas dan keanehan dari wabah menari yang membuatnya menarik. Bagi para seniman atau pemikir masa kini, ini adalah barang antik dan simbol bersejarah.

Pada fenomena ini, ada sebuah ide sederhana. Sekelompok orang mulai menari dan tidak bisa berhenti. Tetapi mengapa mereka menari, dan untuk tujuan apa, tetap menjadi pertanyaan terbuka: pertanyaan yang dapat ditanyakan berulang kali, dengan jawaban berbeda tergantung pada apa yang dicari.

Kegilaan. Kelaparan. Protes. Kebebasan. Kesenangan. Ekstasi.

Namun, dalam imajinasi, kaki para penari tetap bergerak selamanya, bergerak mengikuti ritme mereka sendiri yang tidak dapat dipahami siapapun.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini