Share

Bobol Pintu Rumah Warga Demi Buru Pasien Covid-19, Pejabat China Minta Maaf

Susi Susanti, Okezone · Rabu 20 Juli 2022 11:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 20 18 2632872 bobol-pintu-rumah-warga-demi-buru-pasien-covid-19-pejabat-china-minta-maaf-Z6lcY1cwUI.jpg Pejabat China meminta maaf usai membobol pintu rumah warga karena memburu pasien Covid-19 (Foto: Phoenix News)

CHINA - Pejabat China telah meminta maaf kepada penduduk komunitas yang terkunci di Guangzhou karena membobol  kunci di pintu rumah mereka.

Sejumlah orang di kompleks apartemen di kota China selatan itu baru-baru ini dinyatakan positif Covid.

Para pejabat pun terus mencari kontak dekat yang mungkin bersembunyi dalam upaya untuk menghindari dipindahkan ke pusat karantina.

Menurut outlet Tianmu News, pintu depan dari 84 rumah dirusak oleh pejabat dan pekerja masyarakat.

Baca juga:  Covid-19 Melonjak, China Berlakukan WFH dan Warga yang ke Kantor Harus PCR Negatif

Insiden itu terjadi pada 10 Juli lalu, sesaat setelah beberapa orang di kompleks itu dinyatakan positif terkena virus.

Baca juga: Kasus Positif Covid-19 di Beijing Capai 453 Orang, 40 Stasiun Subway Ditutup

Menurut surat kabar Global Times, penduduk dipindahkan ke fasilitas karantina terpusat, tetapi beberapa kontak dekat ditemukan bersembunyi di rumah mereka", yang mengarah ke rumah lain untuk mencari "penghuni tersembunyi".

Pemerintah distrik di Distrik Liwan Guangzhou meminta maaf kemarin, dengan mengatakan pembobolan "menyimpang dari persyaratan pencegahan epidemi". Pihak terkait mengatakan penyelidikan akan dilakukan, dan mereka yang terlibat akan dihukum.

Mereka yang terkena dampak pembobolan telah diberitahu bahwa mereka akan diberi kompensasi atas kerusakan tersebut.

Video beberapa kasus pembobolan dan diposting di jejaring sosial populer seperti Sina Weibo.

Insiden itu memicu kemarahan, dengan banyak yang menyerukan agar mereka yang terlibat ditangkap karena masuk secara ilegal, mengingat pelanggaran itu termasuk dalam hukum pidana China.

Pengguna di jejaring sosial Sina Weibo yang popular, menyebut insiden itu "tanpa hukum" dan telah memposting bahwa perilaku seperti itu "menginjak-injak hak-hak sipil orang".

"Apakah ini negara yang diatur oleh hukum?" ujar warganet.

"Permintaan maaf saja tidak cukup," terang warganet yang lain.

Seperti diketahui, China mempertahankan kebijakan nol-Covid yang ketat dan karantina adalah hal biasa. Akibatnya, segala cara ditempuh demi tujuan itu.

China telah mempertahankan kebijakan nol-Covid yang ketat selama pandemi. Seluruh komunitas dikunci ketika warga dinyatakan positif. Mereka kemudian dilarang meninggalkan rumah mereka, atau dipindahkan ke pangkalan karantina.

Sangat sedikit pemberitahuan yang sering diberikan sebelum penguncian, sering kali memicu kemarahan dan kecemasan. Beberapa penguncian telah berlangsung selama berbulan-bulan, seperti di kota Shanghai awal tahun ini.

Saat ini, ada lebih dari 1.000 komunitas yang terkunci di negara ini, karena wabah telah mengamuk karena subvarian Omicron yang sangat mudah menular. Lebih dari 90% dari 1,4 miliar penduduk China divaksinasi.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini