Share

Aturan Berhijab di Iran, Warga Asing dan Non-Muslim Juga Wajib Kenakan Jilbab

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 28 September 2022 18:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 28 18 2676890 aturan-berhijab-di-iran-warga-asing-dan-non-muslim-juga-wajib-kenakan-jilbab-rUtgTYy9PR.jpg Koran dengan gambar depan Mahsa Amini, perempuan yang meninggal setelah ditahan polisi moralitas di Teheran, Iran, 18 September 2022. (Foto: Reuters)

TEHERAN – Iran telah dilanda protes berkepanjangan yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini, (22), seorang perempuan Kurdi yang meninggal pada 13 September setelah ditahan oleh polisi moral Iran karena tidak mengenakan hijab.

BACA JUGA: Protes Kematian Mahsa Amini, Wanita Iran Bakar Hijab dan Potong Rambut

Kematian Amini menimbulkan kemarahan yang mengobarkan demonstrasi di seluruh negeri menuntut dihapuskannya kewajiban berhijab di Negeri Para Mullah itu.

Sejak Revolusi Islam 1979, pemerintah Iran memberlakukan aturan yang didasarkan pada hukum Islam yang ketat, salah satunya adalah aturan berpakaian yang mewajibkan hijab. Ini sangat berbeda dengan masa sebelum Revolusi Islam dimana perempuan bebas berpakaian tanpa penutup kepala dan busana seperti di negara Barat.

Nyatanya, aturan berhijab ini tidak hanya berlaku bagi perempuan Muslim atau warga negara Iran saja.

BACA JUGA: Demonstrasi di Iran Masuki Hari Ke-11, Korban Tewas Mencapai 76 Orang

Dilansir dari VOA, di bawah undang-undang yang diadopsi pada 1983, semua wanita, terlepas dari keyakinan atau kebangsaan, harus menyembunyikan rambut mereka dengan jilbab di depan umum dan mengenakan celana longgar di bawah mantel mereka.

Meski aturan itu banyak diabaikan selama beberapa dekade, terutama di kota-kota besar, tetapi tindakan keras terkadang masih diberlakukan.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Di bawah pemerintahan garis keras Presiden Ebrahim Raisi, enegakan aturan tersebut diserahkan kepada unit polisi yang dikenal dengan Patroli Panduan atau Gasht-e Ershad, yang juga sering disebut dengan polisi moral. Mereka punya kewenangan untuk menahan warga yang dianggap "berpakaian secara tidak pantas".

Pada 13 September, Amini yang tengah berkunjung ke Ibu Kota Teheran ditangkap oleh petugas polisi moral karena diduga melanggar undang-undang hijab.

Dia pingsan setelah dibawa ke pusat penahanan untuk "dididik" dan meninggal di rumah sakit setelah tiga hari dalam keadaan koma.

Polisi mengatakan Amini meninggal setelah menderita gagal jantung mendadak, tetapi keluarganya menolaknya dan menuduh bahwa dia dipukuli oleh petugas.

Kematian Amini, sebagaimana dilaporkan, telah memicu kemarahan dan protes di seluruh negeri.

Setelah protes berdarah selama berhari-hari, Partai reformis utama Iran menyerukan untuk mengakhiri aturan berpakaian Islami yang diwajibkan bagi wanita. Partai Persatuan Rakyat Islam Iran juga menyerukan dihentikannya polisi moral yang diberi kewenangan menegakkan aturan tersebut.

Saat ini protes telah berlangsung selama 11 hari, dengan setidaknya 76 pengunjuk rasa, termasuk wanita dan anak-anak, telah terbunuh oleh pasukan keamanan Iran di 14 provinsi.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini