Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Akan Alami Bonus Demografi 2030, Anak Indonesia Tak Boleh Gagap Digital

Kiswondari , Jurnalis-Minggu, 23 Oktober 2022 |20:20 WIB
Akan Alami Bonus Demografi 2030, Anak Indonesia Tak Boleh Gagap Digital
Direktur Eksekutif DPP Pemuda Perindo, Iqnal Shalat Sukma Wibowo/Foto: Kiswondari
A
A
A

JAKARTA - Pada 2030, Indonesia akan mengalami bonus demografi, dan sekarang ini Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa 64% penduduk Indonesia adalah usia produktif dari total jumlah penduduk sekitar 297 juta jiwa.

Menurut Pemuda Perindo, anak Indonesia tidak boleh gagap teknologi dalam menyambut bonus demografi 2030, apalagi di tengah era digitalisasi. Apalagi, Pemuda Perindo melihat bahwa kualitas SDM masih kurang baik, sehingga pemerintah harus bebenah soal kualitas pendidikan.

 BACA JUGA:Antisipasi Gagal Ginjal Akut, Ortu Tak Boleh Sepelekan Demam Anak

"Nah seharusnya di sini pemerintah juga melek lah, bebenah lah agar 2030 ini banyak SDM-SDM kita ini yang sudah siap mencari uang tanpa harus ke kantor, atau pun tanpa harus on site ke lapangan seperti itu. metode-metode Itulah yang yang belum dipikirkan secara matang," kata Direktur Eksekutif DPP Pemuda Perindo Iqnal Shalat Sukma Wibowo dalam Podcas Aksi Nyata yang berjudul "Digitalisasi Bekal Generasi Muda Hadapi Bonus Demografi" secara daring, Minggu (23/10/2022).

Iqnal mengakui bahwa pandemi Covid-19 ini ada dampak positifnya, yakni membuat masyarakat jadi tidak gagap teknologi dan mau menggunakan teknologi. Hanya saja, kebanyakan penggunaan teknologi itu untuk kebutuhan rapat, tapi untuk kerjanya masih agak susah, sebagian kantor masih mewajibkan datang ke kantor.

"Perusahaan esensial dan non esensial, itu ilmunya untuk pekerja jatuhnya kan itu belum settle. Jadi secara struktur itu pekerjaan itu masih banyak yang dikerjakan secara onsite, nah sedangkan bonus demografi ini kan selain pekerjaan yang harusnya onsite, tracking untuk ilmunya Ini kan harus disusun dari dasar, dari sekolah," ujarnya.

Menurut Iqnal, sekolah ini semestinya sudah ada semacam pelatihan-pelatihan khusus digitalisasi dari lembaga pendidikan agar bisa punya skill. Sayabgnya, di Indonesia ini belum seperti Jepang di mana usia 0-14 itu produktif untuk digital.

"Kalau Jepang umur yang produktif itu 0 sampai 14 dan ke belakangnya udah kurang, kalai kita kebalikannya, yang dewasanya yang malah enggak produktif gitu kan," ungkap Iqnal.

Iqnal melihat, masyarakat Indonesia masih gagap teknologi atau masih ada kekhawatiran dari teknologi ini, sehingga masih banyak yang dibatasin tentang teknologi dan peraturan-peraturannya dibuat terlambat. Jadi, regulasi soal penggunaan teknologi ini seringkali terlambat daripada penggunaan teknologinya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement