Share

Studi Terbaru: Kematian Capai 55% Akibat Gelombang Panas India, Jam Kerja Hilang 167,2 Miliar

Susi Susanti, Okezone · Kamis 27 Oktober 2022 11:52 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 27 18 2695509 studi-terbaru-kematian-capai-55-akibat-gelombang-panas-india-jam-kerja-hilang-167-2-miliar-yLJeSmgXl3.jpg Gelombang panas India menyebabkan banyak kematian (Foto: Reuters)

INDIA - India mengalami peningkatan 55% kematian akibat gelombang panas yang ekstrem antara 2000-2004 dan 2017-2021. Hal ini diungkapkan sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam jurnal medis, The Lancet.

Studi tersebut mencatat, paparan panas itu juga menyebabkan hilangnya 167,2 miliar jam kerja potensial di antara orang India pada 2021.

Tak hanya itu, gelombang panas ini juga mengakibatkan hilangnya pendapatan yang setara dengan sekitar 5,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara itu.

Baca juga: Gelombang Panas, Warga China Melarikan Diri ke Bunker Bawah Tanah dan Restoran Gua

Laporan tahunan Lancet Countdown yang diterbitkan pada Selasa (25/10/2022) ini mengamati 103 negara. Para peneliti menemukan bahwa gelombang panas yang melanda India dan Pakistan antara Maret dan April 30 kali lebih mungkin terjadi karena perubahan iklim.

Baca juga: Dampak Gelombang Panas, Inggris Umumkan Kekeringan di Beberapa Wilayah 

"Paparan panas yang ekstrem mempengaruhi kesehatan secara langsung, memperburuk kondisi mendasar seperti penyakit kardiovaskular dan pernapasan, dan menyebabkan stroke panas, hasil kehamilan yang merugikan, pola tidur yang memburuk, kesehatan mental yang buruk, dan peningkatan kematian terkait cedera," catat studi tersebut, dikutip BBC.

Laporan itu juga menambahkan bahwa populasi rentan adalah yang paling berisiko.

Laporan Lancet menambahkan bahwa secara global, kematian terkait panas ekstrem telah meningkat dua pertiga selama dua dekade terakhir.

Baca Juga: BuddyKu Festival, Generasi Muda Wajib Hadir

Follow Berita Okezone di Google News

Studi ini juga memperkirakan bahwa lebih dari 3.30.000 orang meninggal di India akibat paparan partikel - partikel kecil yang dapat menyumbat paru-paru - dari pembakaran bahan bakar fosil pada 2021.

Laporan itu menyebutkan ketergantungan pada pembakaran bahan bakar seperti minyak, gas alam dan biomassa berarti bahwa rata-rata konsentrasi partikel rumah tangga melebihi rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 27 kali lipat di negara itu.

Laporan itu dirilis menjelang konferensi iklim COP27 yang akan diadakan pada November mendatang di Mesir.

Seperti diketahui, India telah menghadapi gelombang panas yang semakin intens dalam beberapa tahun terakhir.

Meskipun banyak bagian negara secara teratur mengalami gelombang panas di musim panas, namun para ahli mengatakan kondisi saat ini menjadi lebih lama, lebih intens dan sering.

"Krisis iklim membunuh kita," terang Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menanggapi temuan laporan tersebut.

"Ini merusak tidak hanya kesehatan planet kita, tetapi kesehatan orang-orang di mana-mana - melalui polusi udara beracun, berkurangnya ketahanan pangan, risiko wabah penyakit menular yang lebih tinggi, rekor panas ekstrem, kekeringan, banjir, dan banyak lagi," lanjutnya.

Sebelumnya, pada awal tahun ini, sebuah studi oleh Kantor Meteorologi Inggris juga menemukan bahwa perubahan iklim telah membuat gelombang panas yang memecahkan rekor di barat laut India dan Pakistan 100 kali lebih mungkin terjadi.

Tanpa perubahan iklim, suhu ekstrem seperti itu hanya akan terjadi setiap 312 tahun sekali.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini