Share

5 Kisah Saksi Hidup di Korea Utara, Keluarga Disandera hingga Dijadikan Budak Seks

Asthesia Dhea Cantika, MNC Portal · Sabtu 03 Desember 2022 07:44 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 03 18 2719749 5-kisah-saksi-hidup-di-korea-utara-keluarga-disandera-hingga-dijadikan-budak-seks-wOoA0UJgqB.jpg Ilustrasi (Foto:Reuters)

JAKARTA- 5 kisah kesaksian hidup di Korea Utara (Korut) yang tak banyak orang tahu. Negara demokratis satu ini memang kerap mencuri perhatian publik.

Bagaimana tidak, masyarakat negara satu ini harus hidup dengan aturan yang sangat ketat dan termasuk negara tertutup. Banyak orang yang ingin mencoba merasakan kehidupan masyarakat Korea Utara, namun untuk masuk negara ini bukanlah hal yang mudah.

Hal ini lantaran, ada aturan ketat yang harus diikuti. Terdapat beberapa kesaksian mengenai hidup di Korut.

Berikut 5 kisah kesaksian hidup di Korea Utara (Korut) yang tak banyak orang tahu dirangkum dari berbagai sumber:

1. Lee Hyeon seo: Dijadikan Budak Seks

Bertahan hidup dari penindasan, kemiskinan, dan risiko menjadi budak seks. Demikian kisah pilu yang disampaikan salah seorang pembelot Korea Utara (Korut) di hadapan peserta Festival Literatur Internasional di Hong Kong. Pilihan tersebut harus dihadapi oleh para pembelot, terutama perempuan asal Korut.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Selama 20 tahun pula, Lee Hyeon-seo menyuarakan perbedaan pendapatnya dengan rezim otoriter Korut.Para perempuan dan gadis asal Korut harus menghadapi tantangan pernikahan paksa dan pelecehan seksual di China

2.Kim Hyon-Hui- Pernah Dihukum Mati

Mantan agen Korea Utara, Kim Hyon Hui menceritakan kisahnya yang pilu. Ia lantas mengisahkan bagaimana dirinya terpilih menjadi mata-mata di usia 19 tahun. Hyon-hui saat itu masih menuntut ilmu sebagai mahasiswa di Pyongyang. Ia dilatih selama bertahun-tahun sebelum menjalankan misi pertama pada 1987, yakni mengebom pesawat milik Korea Selatan.

Tujuan utamanya adalah memberi kesan pada dunia bahwa Korea Selatan sangat berbahaya dan bukan tempat yang aman. Sebagai informasi, Seoul menjadi tuan rumah Olimpiade 1988 dalam hitungan bulan ke depan.

Hyon-hui menjalankan aksinya pada 29 November 1987 di atas pesawat Korean Air dengan nomor penerbangan 858 di Baghdad, Irak. Ia menaruh bom di atas sebuah tempat pesawat di dalam kabin dan duduk bersama seorang ‘ayah’ yang juga agen Korea Utara.

Hyon-hui boleh berhasil meledakkan pesawat, tetapi gagal untuk melarikan diri. Upaya bunuh dirinya berhasil digagalkan polisi di Bahrain ketika hendak menelan kapsul sianida. Padahal, rekannya sesame agen yang meledakkan pesawat, berhasil bunuh diri.

Setelah menjalani interogasi selama satu pekan, Hyon-hui mengakui perbuatannya dan diterbangkan ke Korea Selatan. Ia dihukum mati. Akan tetapi, Hyon-hui mendapat pengampunan (grasi) dari Presiden Korea Selatan, Roh Tae-woo, mengingat Hyon-hui adalah korban cuci otak. Ia dibebaskan dan mendapatkan perlindungan seumur hidup.

3. Jang Se Yul: Tak Menikmati Hiburan

Negara dengan sistem pemerintahan yang menganut nilai kediktatoran ini dikenal memberlakukan batasan-batasan yang terbilang memaksa dan tidak masuk akal. Hal ini diakui oleh pembelot Korea Utara yang melarikan diri ke Korea Selatan, Jang Se Yul.

Jang Se Yul mengungkapkan jika ia tak dapat menikmati hiburan secara leluasa. Sebab, ia hanya bisa menonton film-film impor secara ilegal, diam-diam dan sangat berhati-hati lantaran akan mendapat hukuman berat jika ketahuan.

4. Yeonmi Park: Konsumsi Serangga untuk Hidup

Masalah ekonomi Korea Utara membuat negara ini terus mengalami kemiskinan dan kelaparan. Yeonmi Park, pun turut merasakan dan berhasil melarikan diri pada 2007.

Yeonmi Park menceritakan kisah mirisnya kepada New York Times, bahwa kelaparan sempat memaksa dirinya harus mengonsumsi serangga untuk kelangsungan hidup.

5. Ryu Hyeon Woo: Keluarga Disandera

Keadaan Korea Utara yang sangat meresahkan, turut mendorong para pejabat negara melarikan diri dari negara tersebut. Ryu Hyeon Woo, seorang mantan duta besar Korea Utara untuk Kuwait turut melarikan diri bersama keluarga kecilnya ke Korea Selatan pada 2019.

Rye Hyeon Woo mengaku jika dirinya merasa sangat tidak nyaman bekerja untuk negara tempat kelahirannya. Sebab, seorang diplomat yang ditempatkan di luar negeri seringkali dipaksa untuk meninggalkan keluarganya.

Itulah 5 kesaksian hidup di Korea Utara yang sangat miris.

(RIN)

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini