Seiring waktu berjalan, Soemitro akhirnya bergabung menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA) yang dibentuk Jepang. Ia dikenal nakal saat mengikuti pendidikan perwira PETA di Bogor.
Soemitro kerap sering keluar pagar asrama untuk mencari makan dan mencuri makanan di dapur atau di kamar instruktur. Hingga suatu malam, Soemitro beserta dua orang rekannya, yaitu Sukaryadi dan Ponidi keluar asrama untuk mencari makan.
Namun, Sukaryadi tertangkap oleh Yanagawa, seorang komandan pendidikan perwira PETA. Sementara Soemitro dan Ponidi berhasil kembali ke asrama.
Sukaryadi pun mendapat hukuman harus melakukan saseng (bersila) selama satu minggu. Kemudian, pada siang harinya ia harus melakukan bela diri menggunakan pedang kayu (kendo), dan bela diri menggunakan bayonet (juken jutsu).
Sukaryadi yang solidaritas terhadap temannya memilih bungkam saat ditanya siapa dua orang kawannya yang keluar bersamanya. Ia selalu mengatakan tidak tahu, bahkan nekat mengatakan mungkin kedua orang tersebut berasal dari kesatuan lain.