Para pendaki Gunung Everest juga pernah mengalami fenomena ini yang diibaratkan seperti malaikat penjaga dalam membantu mereka bertahan hidup. Kadangkala fenomena ini disebut “faktor orang ketiga“.
Dalam psikologi, pengalaman ini disebut “kehadiran yang dirasakan“ atau “felt presence“.
Ben Alderson-Day, seorang associate professor atau lektor kepala bidang psikologi di Universitas Durham, Inggris, adalah seorang penulis buku baru bertajuk Presence: The Strange Science and True Stories of the Unseen Other.
Dia menemukan bahwa “kehadiran yang dirasakan“ tidak hanya terbatas pada orang-orang dalam situasi ekstrem. Seorang awam pun bisa merasakan kehadiran individu lain yang tak kasat mata di dalam kamar.
Pengalaman itu biasanya terjadi setelah peristiwa duka, kesedihan mendalam, atau pada orang pengidap psikosis – kondisi ketika seseorang mengalami kesulitan dalam membedakan kenyataan dan imajinasi.
Sebanyak seperempat dari orang-orang pengidap Parkinson mengalaminya. Itu juga bisa terjadi tatkala seseorang hendak terlelap atau bangun tidur.
Bagi sebagian orang, pengalaman ini terjadi sebagai bagian dari kelumpuhan saat tidur (sleep paralysis), yaitu ketika seseorang tidak bisa berbicara dan bergerak saat bangun tidur– atau dikenal dengan istilah ketindihan.
Manusia bisa memiliki perasaan kuat bahwa ada manusia atau makhluk lain berada di kamar yang sama, atau bahkan duduk menindih bagian dada mereka.
Ben Alderson-Day mengungkap, sering kali pengalaman semacam ini melibatkan kelumpuhan saat tidur, di mana orang yang mengalaminya merasakan kehadiran orang lain yang menakutkan.
“Kehadiran yang dirasakan” seperti ada orang lain bersama Anda di lingkup pribadi Anda. Sulit menentukan secara pasti apa saja elemen-elemen dalam “kehadiran yang dirasakan”.