Pola aktivitas yang tidak biasa telah ditemukan di jaringan otak, termasuk persimpangan temporoparietal, insula, dan korteks frontoparietal, area yang terkait dengan pengintegrasian panca indra serta indra yang membuat Anda mengetahui di mana tubuh Anda berada.
Beragam situasi yang memicu terjadinya “kehadiran yang dirasakan“ membuat Alderson-Day berhipotesis bahwa penyebab fenomena tersebut adalah hilangnya indra terkait batas-batas tubuh kita.
Ketika ada sesuatu yang salah, karena tekanan fisik yang ekstrem pada tubuh, seperti dialami Luke Robertson atau pada pengidap sikosis atau pengidap Parkinson, informasi yang kita dapatkan dari indra-indra dapat menyebabkan sensasi aneh: bahwa seseorang bersama kita, meskipun kita tidak dapat melihat, menyentuh, atau mendengar orang itu.
Namun, ekspektasi juga tampaknya berperan. Ada teori kedua terkait dengan apa yang dikenal sebagai pemrosesan prediktif - konsep bahwa otak mengisi kekosongan saat ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Jadi, sama seperti saat kita melihat pola wajah di awan, kita mungkin melihat seseorang padahal tidak ada. Seperti yang dikatakan Alderson-Day, otak "menerka apa yang ada di luar sana".
Cara kita mengalami “kehadiran yang dirasakan” dapat bergantung pada perasaan dan keyakinan pribadi kita.
Ini mungkin terasa menghibur - seperti yang dirasakan Luke Robertson - atau mungkin terasa jahat atau religius, tergantung bagaimana Anda menafsirkan pengalaman itu (mungkin malaikat pelindung atau hantu, atau otak yang mencoba membantu Anda).
Alderson-Day meyakini baik tubuh maupun pikiran perlu dipelajari jika pengalaman umum ini ingin benar-benar dipahami. Sementara itu, membahas pengalaman tersebut mungkin membuat fenomena itu kurang mengkhawatirkan bagi sebagian orang.