"Akhirnya terjadi kebakaran, semakin siang semakin membesar, kita tarik mundur, daripada bahaya memadamkan api nggak memungkinkan. Kita bersama teman-teman kita tarik. Kewalahan, angin kencang dan api membesar ketinggian ada yang 3 - 4 meter lebih," imbuhnya.
Selama berjuang memadamkan api ia dan beberapa rekan hanya bermodalkan semangat nekat dan peralatan seadanya. Beberapa peralatan seperti gebyok, parang, hingga ranting pohon besar dimanfaatkan oleh Pak To dan timnya.
BACA JUGA:
"Kita harus mengikuti arah angin, jangan melawan arah angin, cukup membawa gebyok manual saja, kalau gebyok buatan kayak garuk itu nggak fungsi. Terus bawa sabit kalau terjun ke titik api, dari lokasi pakai gebyok, pakai ranting," bebernya.
BACA JUGA:
Pengalamannya memadamkan api di Gunung Bromo membuatnya dengan cekatan mudah berjibaku dengan api. Ia dan rekan-rekannya begitu hafal betul kontur tanah di kawasan Gunung Bromo. Maka ketika ada kawasan yang terbakar dengan ditemukan banyak bahan bakar atau bahan-bahan yang mudah terbakar, dari dedaunan dan semak belukar, ia biarkan dahulu.
"Kalau bahan bakar terlalu tebal kita biarkan dulu. Kalau nemukan yang tipis kita sekat, kalau mampu kita babat, kita babat, kalau nggak ya kita bakar balik," pungkasnya.
(Fakhrizal Fakhri )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.