Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita Relawan Berjibaku Padamkan Api Setinggi 4 Meter di Gunung Bromo

Avirista Midaada , Jurnalis-Sabtu, 23 September 2023 |10:42 WIB
 Cerita Relawan Berjibaku Padamkan Api Setinggi 4 Meter di Gunung Bromo
Relawan Gunung Bromo (Foto: MPI)
A
A
A

 

MALANG - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Gunung Bromo selama nyaris dua pekan menggoreskan cerita bagi ketiga warga Desa Ngadas, Kabupaten Malang. Ketiga warga yang tergabung dalam relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) ini menjadi garda terdepan memadamkan api yang menyambar hingga ketinggian empat meter lebih.

Ketua MPA Ngadas Sampotono menuturkan, bagaimana perjuangannya memadamkan api sejak kebakaran melanda kawasan Gunung Bromo pada 28 Agustus 2023 lalu. Saat itu dan beberapa temannya melihat cahaya merah di kawasan Bantengan dari blok Jemplang, awalnya ia mengira cahaya itu berasal dari mobil di pinggir jalan.

"Karena saat itu malam jam 10.07 malam, dipikir itu cahaya lampunya mobil di pinggir jalan. Kita tunggu 3p menit kok mobilnya tidak sampai-sampai, setelah dilihat lagi ternyata itu api," ucap Sampotono, pada Sabtu (23/9/2023).

Ia lantas memberikan informasi ke beberapa posko di sekitar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bahwa ada api yang muncul sekitar pukul 22.00 WIB dari kawasan Bantengan. Ia dan teman-teman MPA tak langsung memadamkan api terlebih dahulu, ia baru bergerak bersama teman-teman MPA pukul 03.00 WIB.

"Jam 3 pagi dapat teman baru bisa bergerak kita padamkan. Dengan situasi di sana yang gelap, medan yang sulit akhirnya kita nggak mampu (memadamkan api)," terangnya.

Menurutnya, kebakaran jilid pertama di kawasan Gunung Bromo akhirnya berhasil ditaklukan pada Sabtu 2 September 2023. Sejak tanggal 2 September itulah ia dan beberapa relawan MPA desa-desa di sekitar kawasan Gunung Bromo bisa sedikit bersantai.

Namun kejutan kembali ia terima ketika tanggal 6 September menerima informasi adanya wisatawan yang menyalakan flare, sehingga membakar kawasan Gunung Bromo kembali.

"Tiba-tiba tanggal 6 ada informasi tamu yang menyalakan flare, dihubungi teman di Cemorolawang menghubungi MPA di Ngadas, akhirnya berbondong-bondong memadamkan api di sana," ungkap dia.

Proses pemadaman api pun dilakukan hingga dini hari pada tanggal 7 September pukul 04.00 WIB. Ia menceritakan bagaimana api bergerak cepat pada kebakaran jilid dua yang diakibatkan sulutan flare yang dinyalakan wisatawan.

"Malam itu berusaha sampai setengah 4 pagi, kita belum pulang, api yang di sebelah barat sudah padam, tapi akhirnya gantian menjalar ke timur. Sampai dua hari padam karena sudah habis," jelas pria berusia 48 tahun ini.

Dari sinilah perjuangannya memadamkan api kembali dimulai. Dengan dibantu beberapa tim MPA lain Pak To, sapaan akrabnya dengan Suharto (62) dan Jumani (52) mereka bergerak berjibaku memadamkan api. Mereka bergerak ke Gunung Watangan untuk melakukan penyekatan api, agar kebakaran tak meluas. Namun upaya itu akhirnya gagal, kencangnya angin yang berhembus membuat api terus meluas dari Bukit Teletubbies merambat terus.

"Kita berusaha menyekat - menyekat terus, karena sana mau masuk nggak bisa, medan terjal, akhirnya pakai alat seadanya, gebyok, dan lain yang kita punya. Kita berusaha memadamkan dibantu masyarakat Jetak Probolinggo kurang lebih 40 orang," ungkap dia.

Kebakaran kian membesar terjadi di hari Minggu 10 September 2023. Bahkan kencangnya angin sempat membuat fenomena tornado api yang beredar viral di media sosial. Kala itu diakui api begitu besar dan bahkan mencapai ketinggian lebih dari 3 - 4 meter.

Saat itu ia masih ingat betul bagaimana timnya dibantu komunitas jeep Bromo berjibaku melawan api. Total ada 40 tim lebih anggota yang disiagakan, mereka kemudian membagi menjadi tiga tim, masing-masing bergerak memadamkan api di Gunung Watangan dari beberapa posisi.

"Tanggal 10 terjadi kebakaran yang sangat besar itu di Jemplang. Kita bagi tiga tim, yang satu tim ke bawahnya Gunung Watangan, yang satu ke Pusung Tumpang, satu nyegat di bawahnya Bukit Pentongan," tuturnya.

"Akhirnya terjadi kebakaran, semakin siang semakin membesar, kita tarik mundur, daripada bahaya memadamkan api nggak memungkinkan. Kita bersama teman-teman kita tarik. Kewalahan, angin kencang dan api membesar ketinggian ada yang 3 - 4 meter lebih," imbuhnya.

Selama berjuang memadamkan api ia dan beberapa rekan hanya bermodalkan semangat nekat dan peralatan seadanya. Beberapa peralatan seperti gebyok, parang, hingga ranting pohon besar dimanfaatkan oleh Pak To dan timnya.

 BACA JUGA:

"Kita harus mengikuti arah angin, jangan melawan arah angin, cukup membawa gebyok manual saja, kalau gebyok buatan kayak garuk itu nggak fungsi. Terus bawa sabit kalau terjun ke titik api, dari lokasi pakai gebyok, pakai ranting," bebernya.

 BACA JUGA:

Pengalamannya memadamkan api di Gunung Bromo membuatnya dengan cekatan mudah berjibaku dengan api. Ia dan rekan-rekannya begitu hafal betul kontur tanah di kawasan Gunung Bromo. Maka ketika ada kawasan yang terbakar dengan ditemukan banyak bahan bakar atau bahan-bahan yang mudah terbakar, dari dedaunan dan semak belukar, ia biarkan dahulu.

"Kalau bahan bakar terlalu tebal kita biarkan dulu. Kalau nemukan yang tipis kita sekat, kalau mampu kita babat, kita babat, kalau nggak ya kita bakar balik," pungkasnya.

(Fakhrizal Fakhri )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement