PROFESOR Salim Said meninggal dunia. Ia adalah Duta Besar RI untuk Republik Ceko (2006-2010).
Selain itu, almarhum juga merupakan Guru Besar Ilmu Politik, seorang penulis yang aktif merilis buku, seorang wartawan sekaligus salah satu pendiri majalah Tempo, dan asisten sutradara.
Berikut ini profil singkat mengenai almarhum yang diolah dari berbagai sumber:
Salim Said memulai kariernya di media, di mana dirinya kemduian memantapkan sebagai dosen dan pengamat militer. Bahkan, pada usia 75 tahun, dirinya mendapatkan penghargaan PAB 2018.
Dikenal sebagai seorang pengamat sekaligus penulis yang telah menelurkan banyak buku bertema film, politik, dan militer, kemampuan menukis Salim Said tersebut sudah terasah sejak masih remaja.
Saat kuliah, Salim Said memilih jurusan Psikologi di Universitas Indonesia, namun tak berlanjut. Dia kemudian memilih Sosiologi di UI dan lulus pada 1976.
Setelah itu, Salim yang lahir di Parepare, 10 November 1943, terbang ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikannya di Ohio State University. Ia meraih 3 gelar sekaligus di sana, yakni magister Hubungan Internasional, Ilmu Politik, dan doktor Ilmu Politik.
Sejak lulus dari Ohio University, Salim dikenal sebagai pengamat militer. Hal itu karena desertasi doktornya mengambil judul Sejarah dan Politik Tentara Indonesia.
Sebelumnya, mantan redaktur Tempo itu lebih dikenal sebagai kritikus film. Bahkan, sekembalinya dari Amerika, saat berusia 39 tahun, ia merilis salah satu buku tentang film bertajuk Profil Dunia Film Indonesia.
Tak cuma itu, Salim Said juga menjadi dosen di Sekolah Ilmu Sosial Jakarta, FISIP Universitas Indonesia, Dosen Tamu di Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia dan Dosen Tamu di Tammasat University, Bangkok, Thailand.
Ia juga aktif menciptakan karya-karya cerdas beberapa di antaranya, Dari Festival ke Festival: Film-film Manca Negara dalam Pembicaraan, Militer Indonesia dalam Politik, Tumbuh dan Tumbangnya Dwifungsi: Perkembangan Pemikiran Politik Militer Indonesia, 1958-2000, dan Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian .
Kesuksesannya sebagai penulis tak lepas dari jasa sang ayah. Saat Salim masih kecil, ia pernah meminta dibelikan bola oleh ayahnya, tapi tidak dituruti. Berbeda saat Salim meminta buku, sang ayah pasti mengusahakannya dalam situasi apapun.
Setelah itu, Salim sering mengarang cerita dan dimuat di media massa. Ayahnya pun suka menulis, meski tidak ada satupun karyanya yang dipublikasikan.
(Angkasa Yudhistira)