Seusai sambutan, para pecinta wayang meminta Kapolri dan sang istri melantunkan sebuah lagu Jogja Istimewa.
Diketahui, Polri menggelar kegiatan kebudayaan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dalam rangka Hari Bhayangkara yang tahun ini mengangkat lakon Tumurune Wiji Sejati.
Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko menyebut lakon Tumure Wiji Sejati mengisahkan tentang lahirnya ksatria sejati yang cerdas dan sakti, yakni Raden Wisanggeni.
"Tumurune wiji sejati itu artinya lahirnya satria unggul, cerdas dan sakti. Yakni, Raden Wisanggeni," kata Trunoyudo.
Lakon ini, lanjutnya, diangkat dengan pesan khusus bagi masyarakat yang menonton pertunjukan. Yakni, sosok Wisanggeni yang menegakkan kebenaran, keadilan, dan kejujuran.
"Seperti sosok Raden Wisanggeni ini simbol kekuatan dan keberagaman yang luar biasa," ujarnya.
Dia menyebut ini merupakan tahun ketiga Polri mengadakan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dalam rangka Hari Bhayangkara.
Seperti sebelumnya, lakon dimainkan 3 dalang, yakni Ki Yanto, yang merupakan Hakim Agung, Ki Sri Kuncoro, perwira Polri berpangkat Ipda, dan Ki Harso Widi Santoso, anggota TNI berpangkat Mayor Angkatan Laut.
(Awaludin)