Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Warga Gaza Bersikukuh Tak Mau Tinggalkan Gaza, Siap Mati di Tanah Kelahiran

Susi Susanti , Jurnalis-Jum'at, 12 Juli 2024 |07:02 WIB
Warga Gaza Bersikukuh Tak Mau Tinggalkan Gaza, Siap Mati di Tanah Kelahiran
Warga Gaza bersikukuh tak mau tinggalkan Gaza, siap mati di tanah kelahiran (Foto: AP)
A
A
A

GAZA - Kota Gaza yang merupakan rumah bagi lebih dari seperempat penduduk Gaza sebelum perang, sebagian besar rata dengan tanah pada akhir tahun 2023. Namun ratusan ribu warga Palestina telah kembali ke rumah mereka di reruntuhan tersebut. Israel sekali lagi memerintahkan mereka keluar, meski tidak jelas ke mana warga bisa pergi dengan aman. Israel menguasai sebagian besar perbatasan Gaza.

Banyak yang bilang mereka tidak akan pergi. “Kami akan mati tapi tidak pergi ke selatan. Kami telah menoleransi kelaparan dan bom selama sembilan bulan dan kami siap mati sebagai martir di sini,” kata Mohammad Ali, 30, yang dihubungi melalui pesan teks, dikutip Reuters.

Ali, yang keluarganya telah beberapa kali pindah ke kota tersebut, mengatakan mereka kekurangan makanan, air dan obat-obatan.

“Pendudukan (Israel) mengebom Kota Gaza seolah-olah perang akan dimulai kembali. Kami berharap akan ada gencatan senjata segera, tetapi jika tidak, maka itu adalah kehendak Tuhan,” ujarnya.

Tentara Israel mengatakan kepada penduduk Kota Gaza pada Rabu (10/7/2024) untuk menggunakan dua rute aman untuk menuju ke selatan. Beberapa orang mengunggah hashtag di media sosial: “Kami tidak akan pergi”.

Ketika diminta oleh Reuters untuk mengomentari operasinya di Kota Gaza, militer Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pasukannya berupaya untuk melemahkan kemampuan Hamas, dan bahwa mereka mengikuti hukum internasional serta mengambil tindakan pencegahan yang layak untuk mengurangi kerugian sipil. Dilaporkan bahwa hal yang sama tidak berlaku pada Hamas.

Kritikus menuduh Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina, namun Israel membantahnya. Hal ini menggambarkan tindakannya sebagai pembelaan diri, meskipun Mahkamah Internasional memerintahkan Israel pada bulan Januari untuk mengambil tindakan untuk mencegah tindakan genosida.

Israel melancarkan serangannya ke Jalur Gaza tahun lalu setelah militan pimpinan Hamas menyerbu Israel selatan, menewaskan 1.200 orang dan menyandera lebih dari 250 menurut penghitungan Israel.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement